Gempa NTT: Ratusan Anak di Manggarai Jalani Trauma Healing Dampingan DPR RI
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang belum lama ini mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya menyisakan duka berupa kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan luka psikologis mendalam, terutama bagi anak-anak. Di Kabupaten Manggarai, ratusan anak korban gempa kini secara aktif mengikuti program trauma healing yang bertujuan untuk memulihkan kondisi mental mereka dari pengalaman menakutkan tersebut. Inisiatif penting ini mendapatkan perhatian langsung dari Anggota DPR RI, Pinka Haprani, yang turut serta memastikan proses pemulihan berjalan optimal.
Keterlibatan Pinka Haprani di lapangan menjadi bukti konkret kepedulian para pemangku kebijakan terhadap kondisi psikologis masyarakat terdampak bencana. Ia menyoroti betapa krusialnya dukungan mental bagi anak-anak yang rentan, memastikan mereka tidak berjuang sendiri menghadapi dampak emosional pasca gempa. Program trauma healing ini dirancang khusus dengan berbagai pendekatan yang menyenangkan namun efektif, membantu anak-anak mengekspresikan ketakutan dan kecemasan mereka dalam lingkungan yang aman dan suportif.
Dampak Psikologis Mendalam Gempa Bumi pada Anak
Anak-anak memiliki respons yang berbeda terhadap trauma dibandingkan orang dewasa. Peristiwa gempa bumi dengan guncangan dahsyat seperti yang terjadi di NTT dapat memicu berbagai reaksi psikologis, mulai dari kecemasan berlebihan, gangguan tidur, mimpi buruk, kesulitan berkonsentrasi, hingga regresi perilaku seperti mengompol kembali atau menjadi lebih manja. Gejala-gejala ini, jika tidak ditangani dengan baik, dapat mengganggu tumbuh kembang dan kesejahteraan mereka dalam jangka panjang.
Dalam kunjungannya, Pinka Haprani menyampaikan pentingnya pendekatan holistik dalam penanganan pasca-bencana. “Kerusakan fisik bisa kita bangun kembali, namun luka di hati anak-anak membutuhkan perhatian khusus dan waktu yang tidak sebentar. Kehadiran kita di sini adalah untuk memberikan rasa aman, menumbuhkan kembali harapan, dan memastikan mereka bisa melewati masa sulit ini dengan dukungan penuh,” ujarnya di tengah kegiatan trauma healing. Ia juga menekankan bahwa program seperti ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan generasi penerus di NTT.
Pendekatan Inovatif dalam Trauma Healing
Program trauma healing di Manggarai ini melibatkan berbagai aktivitas yang disesuaikan dengan usia dan kondisi psikologis anak. Beberapa metode yang diterapkan meliputi:
- Terapi Bermain: Melalui permainan edukatif dan interaktif, anak-anak diajak untuk melupakan sejenak ketakutan mereka dan membangun kembali interaksi sosial.
- Mendongeng dan Bercerita: Fasilitator menggunakan dongeng inspiratif atau mendorong anak-anak untuk berbagi cerita tentang perasaan mereka, membantu mereka memproses emosi.
- Seni dan Kreativitas: Menggambar, melukis, atau kerajinan tangan menjadi media ekspresi diri bagi anak-anak untuk mengeluarkan apa yang mereka rasakan tanpa harus diungkapkan secara verbal.
- Latihan Relaksasi: Panduan pernapasan dan aktivitas fisik ringan membantu anak-anak menenangkan diri dan mengurangi tingkat kecemasan.
Para fasilitator, yang terdiri dari psikolog anak dan relawan terlatih, berupaya menciptakan suasana yang ceria dan penuh kasih sayang. Mereka fokus pada pembangunan resiliensi, yaitu kemampuan anak untuk bangkit kembali dari kesulitan. Pendekatan ini bertujuan untuk mengembalikan rasa kontrol diri dan kepercayaan diri anak, yang mungkin terguncang oleh pengalaman traumatis.
Komitmen Dukungan Berkelanjutan dan Sinergi Lintas Sektor
Keberhasilan program trauma healing ini tidak lepas dari sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, hingga relawan. Pinka Haprani menegaskan bahwa dukungan terhadap korban gempa, khususnya anak-anak, tidak boleh berhenti setelah kegiatan trauma healing awal. “Ini adalah langkah awal. Kita harus memastikan ada tindak lanjut dan pendampingan berkelanjutan agar efek traumatis tidak berlarut-larut. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat sipil sangat diperlukan untuk menciptakan sistem dukungan yang komprehensif,” paparnya.
Kegiatan ini juga menjadi pengingat penting bagi kita semua tentang urgensi kesiapsiagaan bencana, tidak hanya dalam aspek fisik tetapi juga mental. Mengingatkan kembali betapa krusialnya penanganan pasca-bencana, seperti yang pernah kami ulas dalam artikel ‘Pentingnya Dukungan Psikososial dalam Penanggulangan Bencana’, dukungan psikososial harus menjadi bagian integral dari setiap respons bencana.
Harapan besar disematkan pada program ini agar ratusan anak di Manggarai dapat segera pulih sepenuhnya, kembali ceria, dan melanjutkan aktivitas belajar serta bermain mereka tanpa dibayangi ketakutan. Komitmen untuk terus mendampingi dan memberikan perhatian kepada mereka menjadi prioritas utama dalam upaya pemulihan pasca-bencana di NTT.