Viral: Warga Mojokerto Angkut Lansia Sakit dengan Truk, Sorotan Tajam Ketiadaan Mobil Siaga Desa

Sebuah rekaman video yang memperlihatkan seorang lansia tengah sakit dievakuasi menggunakan truk bak terbuka, kemudian ditandu dengan amben bambu oleh warga, menjadi viral di media sosial. Kejadian memilukan ini terjadi di Desa Curahmojo, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, dan secara telanjang menyingkapkan permasalahan mendasar terkait akses kesehatan di wilayah pedesaan yang kerap terabaikan.

Dalam video tersebut, terlihat jelas bagaimana para warga bergotong royong, bahu-membahu membawa pasien lansia yang terbaring lemah. Tidak adanya fasilitas transportasi medis yang layak, seperti mobil siaga desa atau ambulans, memaksa mereka menggunakan opsi darurat yang jauh dari standar. Truk tersebut menjadi satu-satunya ‘mobil’ yang tersedia untuk membawa pasien dari lokasi yang sulit dijangkau menuju fasilitas kesehatan terdekat, yang kemudian dilanjutkan dengan ditandu menggunakan amben bambu—sebuah pemandangan yang seharusnya tidak lagi terjadi di era modern.

Detik-detik Evakuasi Penuh Perjuangan

Video berdurasi singkat itu menangkap esensi perjuangan warga dan pasien. Dari rekaman yang beredar, lansia tersebut tampak lemah, terbaring di atas alas seadanya di dalam bak truk. Wajah-wajah tegang dan khawatir terlihat pada warga yang mendampingi, mengindikasikan tingkat keparahan kondisi pasien dan juga keputusasaan mereka dalam menghadapi situasi tanpa pilihan.

Setibanya di lokasi yang memungkinkan, pasien kemudian dipindahkan ke amben bambu. Beberapa pria dewasa dengan hati-hati mengangkat tandu darurat itu, berjalan kaki menembus medan yang mungkin tidak rata, menuju titik penjemputan berikutnya atau langsung ke puskesmas. Kejadian ini bukan hanya sekadar transportasi pasien, melainkan sebuah gambaran nyata betapa minimnya perhatian terhadap infrastruktur kesehatan dasar di beberapa wilayah terpencil.

Cermin Minimnya Akses Kesehatan Pedesaan

Kasus di Desa Curahmojo ini bukan anomali, melainkan cerminan dari tantangan besar yang masih dihadapi banyak desa di Indonesia: ketiadaan atau kurangnya akses terhadap fasilitas kesehatan dan transportasi medis yang memadai. Mobil siaga desa atau ambulans desa sejatinya merupakan program vital yang dirancang untuk mengatasi masalah ini, memastikan bahwa setiap warga, terutama di daerah terpencil, dapat memperoleh pertolongan medis darurat dengan cepat.

  • Keterbatasan Dana: Banyak desa masih menghadapi kendala anggaran untuk pengadaan dan operasional mobil siaga.
  • Prioritas Pembangunan: Prioritas pembangunan di tingkat desa seringkali belum menempatkan fasilitas kesehatan darurat sebagai hal utama.
  • Geografis dan Topografi: Kondisi geografis yang sulit dijangkau memperparah tantangan, membutuhkan kendaraan yang tidak hanya ada tetapi juga sesuai medan.
  • Kesadaran dan Pelatihan: Kurangnya sosialisasi dan pelatihan bagi pengelola mobil siaga (jika ada) juga menjadi kendala.

Insiden ini seolah mengulang kembali kisah-kisah serupa yang sering muncul di berita, di mana masyarakat terpaksa menggunakan sarana seadanya, mulai dari gerobak, becak, hingga sepeda motor, untuk mengangkut pasien. Kondisi ini tentu sangat berisiko bagi keselamatan dan kondisi kesehatan pasien, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia atau anak-anak.

Desakan bagi Pemerintah Daerah dan Solusi Jangka Panjang

Peristiwa di Mojokerto ini harus menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah, khususnya di Kabupaten Mojokerto, untuk mengevaluasi kembali program dan alokasi anggaran terkait fasilitas kesehatan desa. Ketersediaan mobil siaga bukan hanya masalah transportasi, tetapi juga tentang hak dasar warga negara untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak dan manusiawi.

Beberapa langkah strategis yang dapat dipertimbangkan:

  • Percepatan Pengadaan Mobil Siaga: Memastikan setiap desa memiliki akses ke mobil siaga yang operasional dan terawat.
  • Alokasi Anggaran Berkelanjutan: Menetapkan alokasi dana khusus dari APBD atau Dana Desa untuk operasional dan pemeliharaan kendaraan.
  • Peningkatan Sinergi Antar-Lembaga: Kolaborasi antara pemerintah daerah, dinas kesehatan, dan pemerintah desa untuk pemetaan kebutuhan dan penyediaan fasilitas.
  • Pelatihan Relawan Medis: Melatih warga atau relawan desa dalam pertolongan pertama dan penggunaan alat medis dasar.
  • Sistem Rujukan Terintegrasi: Membangun sistem rujukan yang efektif dari tingkat desa ke puskesmas dan rumah sakit.

Kasus lansia sakit yang diangkut truk di Mojokerto ini adalah potret nyata bahwa pembangunan infrastruktur kesehatan di pelosok desa masih membutuhkan perhatian serius. Sudah saatnya pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik berskala besar, tetapi juga menjamin ketersediaan fasilitas dasar yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat paling rentan.