Putin dan Xi Peringatkan Dunia Tentang Hukum Rimba Dorong Tatanan Multipolar

BEIJING – Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Tiongkok Xi Jinping baru-baru ini menyelenggarakan pertemuan tingkat tinggi di Beijing, menandai momen krusial dalam hubungan bilateral mereka dan dinamika geopolitik global. Pertemuan tersebut menghasilkan peringatan bersama terhadap ancaman “hukum rimba” dalam tatanan internasional, serta seruan tegas untuk mendorong kebijakan luar negeri yang independen dan perdamaian berdasarkan prinsip kedaulatan.

Keduanya menekankan pentingnya stabilitas global di tengah gejolak yang kian meningkat, dengan konflik di Ukraina menjadi salah satu agenda utama pembahasan. Melalui deklarasi bersama, Putin dan Xi menyoroti visi mereka tentang dunia yang lebih multipolar, di mana tidak ada satu kekuatan pun yang mendominasi, dan semua negara memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan eksternal.

Melawan Unilateralisme dan ‘Hukum Rimba’ Versi Beijing-Moskow

Istilah “hukum rimba” yang disuarakan oleh Putin dan Xi secara implisit merujuk pada apa yang mereka anggap sebagai praktik unilateralisme dan hegemoni yang dilakukan oleh beberapa kekuatan Barat. Mereka mengkritik pendekatan yang mengabaikan hukum internasional, menggunakan sanksi sebagai alat paksa, serta intervensi dalam urusan internal negara lain. Bagi Beijing dan Moskow, tatanan dunia saat ini terlalu didominasi oleh satu atau beberapa negara, yang seringkali mengabaikan kepentingan sah negara-negara lain.

Dalam pandangan mereka, tatanan “hukum rimba” ini memicu ketidakpastian, meningkatkan risiko konflik, dan menghambat pembangunan yang adil serta merata di seluruh dunia. Oleh karena itu, seruan mereka untuk kebijakan luar negeri yang independen adalah penolakan terhadap pemaksaan pilihan dan penekanan pada hak setiap negara untuk mengejar jalur pembangunannya sendiri, tanpa didikte oleh kekuatan eksternal.

Posisi Bersama Terkait Konflik Ukraina

Konflik Ukraina menjadi topik sentral dalam diskusi kedua pemimpin. Meskipun Tiongkok secara resmi menyatakan netralitas, posisinya seringkali selaras dengan narasi Rusia yang menyoroti akar konflik dari ekspansi NATO dan kekhawatiran keamanan Rusia. Putin dan Xi menyerukan penyelesaian konflik secara damai melalui dialog dan negosiasi, namun juga secara tersirat mengkritik bantuan militer Barat kepada Ukraina yang dianggap memperpanjang peperangan dan memperburuk krisis kemanusiaan.

Mereka menegaskan bahwa keamanan suatu negara tidak boleh dicapai dengan mengorbankan keamanan negara lain, sebuah prinsip yang seringkali diangkat Rusia dalam menanggapi perluasan aliansi militer di perbatasannya. Ini mencerminkan upaya bersama untuk menantang narasi Barat dan mendorong solusi yang mempertimbangkan “kekhawatiran keamanan yang sah” semua pihak, termasuk Rusia, sebagai prasyarat bagi perdamaian jangka panjang.

Membangun Tatanan Dunia Multipolar yang Baru

Visi Putin dan Xi melampaui kritik terhadap tatanan yang ada. Keduanya secara aktif mempromosikan pembentukan tatanan dunia multipolar, di mana kekuatan didistribusikan di antara beberapa pusat kekuatan global. Ini bukan sekadar retorika, melainkan didukung oleh upaya nyata melalui platform seperti:

  • BRICS: Memperluas keanggotaan dan memperkuat peran blok ekonomi ini sebagai alternatif dari institusi keuangan dan perdagangan yang didominasi Barat.
  • Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO): Meningkatkan kerja sama keamanan dan ekonomi di antara negara-negara anggota Eurasia, menyoroti pendekatan keamanan regional tanpa intervensi pihak luar.
  • Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI): Memperkuat konektivitas infrastruktur dan ekonomi yang melibatkan banyak negara, seringkali sebagai counter-narrative terhadap pengaruh Barat dan sebagai pendorong pembangunan global yang inklusif.

Para pemimpin ini percaya bahwa tatanan multipolar akan lebih adil, inklusif, dan stabil, karena akan mengurangi risiko hegemoni tunggal dan mendorong kolaborasi yang lebih setara. Tentu saja, narasi ini secara implisit memposisikan Rusia dan Tiongkok sebagai pilar utama dalam tatanan baru tersebut, memproyeksikan kekuatan gabungan mereka sebagai penyeimbang kekuatan global.

Implikasi Strategis Kemitraan ‘Tanpa Batas’

Kemitraan strategis antara Rusia dan Tiongkok, yang sering disebut sebagai “tanpa batas,” telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Ini mencakup kerja sama di berbagai bidang, mulai dari energi, perdagangan, hingga teknologi militer dan eksplorasi ruang angkasa. Pertemuan terakhir ini memperkuat komitmen mereka untuk terus mendalamkan koordinasi dalam menghadapi tantangan geopolitik.

Penguatan aliansi ini memiliki implikasi jangka panjang yang signifikan bagi politik global. Ia berpotensi:

  • Mengubah keseimbangan kekuatan global, menantang dominasi Amerika Serikat dan sekutunya dalam tatanan internasional.
  • Mendorong de-dolarisasi dan pembentukan sistem keuangan internasional alternatif yang kurang bergantung pada mata uang tunggal.
  • Meningkatkan ketegangan antara blok Timur (Rusia-Tiongkok) dan Barat, yang dapat memicu perlombaan senjata dan proxy wars di berbagai wilayah.

Sebagai editorial senior, kami melihat bahwa seruan Putin dan Xi bukan hanya sekadar peringatan, melainkan cetak biru bagi tatanan dunia yang mereka impikan—sebuah tatanan yang secara fundamental berbeda dari yang kita kenal pasca-Perang Dingin. Untuk memahami lebih lanjut mengenai dinamika ekonomi yang mengikat kedua negara, Anda bisa merujuk pada artikel kami sebelumnya tentang Analisis Ekspansi BRICS dan Dampak pada Ekonomi Global.

Situasi ini membutuhkan perhatian cermat dari komunitas internasional, karena pergeseran geopolitik yang diusung oleh Moskow dan Beijing berpotensi membentuk kembali lanskap hubungan internasional selama beberapa dekade mendatang. Untuk studi lebih lanjut mengenai konsep tatanan dunia multipolar dari sudut pandang akademis, sumber seperti analisis Chatham House tentang Aliansi Rusia-Tiongkok dan Tatanan Dunia Baru seringkali memberikan wawasan mendalam.