Analisis: Proposal Trump Minta Suriah Subduksi Hezbollah Picu Kebingungan Regional

Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pernah secara berulang kali mengemukakan gagasan bahwa Suriah dapat memainkan peran dalam menundukkan kelompok bersenjata Hezbollah di Lebanon selama pembicaraan damai. Proposal ini, yang disampaikan dalam konteks diplomasi Timur Tengah, segera memicu gelombang kebingungan dan menghidupkan kembali ingatan pahit di seluruh kawasan, terutama di Lebanon dan Suriah. Usulan tersebut secara fundamental bertentangan dengan realitas geopolitik dan sejarah kompleks di wilayah tersebut.

### Latar Belakang Proposal Kontroversial

Dalam beberapa kesempatan selama masa kepresidenannya, Donald Trump mengemukakan ide agar Suriah membantu mengekang pengaruh Hezbollah. Gagasan ini muncul di tengah upaya mencari solusi stabilitas regional, namun konteks spesifik ‘pembicaraan damai’ tempat usulan ini dilontarkan tidak dijelaskan secara rinci. Namun, secara implisit, ini mengacu pada dialog atau inisiatif diplomasi yang lebih luas mengenai isu-isu keamanan dan stabilitas di Timur Tengah.

Proposal ini segera menjadi sorotan karena beberapa alasan krusial. Pertama, Suriah di bawah kepemimpinan Bashar al-Assad dan Hezbollah memiliki hubungan aliansi yang sangat kuat, bukan sebagai pihak yang saling menundukkan. Hezbollah telah menjadi pendukung utama rezim Assad selama perang saudara Suriah, menyediakan pasukan dan keahlian militer yang vital. Kedua, usulan ini mengabaikan sejarah panjang intervensi Suriah di Lebanon yang penuh konflik, sebuah periode yang masih meninggalkan trauma mendalam bagi banyak warga Lebanon.

### Membongkar Kekeliruan Geopolitik

Ide bahwa Suriah akan ‘menundukkan’ Hezbollah adalah sebuah kekeliruan geopolitik yang mendasar. Hezbollah, yang berakar kuat dalam politik dan masyarakat Lebanon, bukan sekadar milisi, melainkan juga partai politik utama yang memiliki perwakilan signifikan di parlemen dan pemerintahan. Kelompok ini mempertahankan sayap militer yang kuat dan merupakan pemain kunci dalam apa yang disebut sebagai poros perlawanan yang didukung Iran, bersama Suriah.

* Aliansi Kuat: Suriah dan Hezbollah adalah sekutu dekat dalam poros perlawanan yang lebih luas, yang juga melibatkan Iran. Hubungan mereka diperkuat selama perang saudara Suriah, di mana Hezbollah memainkan peran krusial dalam mempertahankan rezim Assad. Mengingat kemitraan strategis ini, meminta Suriah untuk menundukkan Hezbollah sama saja dengan meminta sekutu untuk menghancurkan dirinya sendiri.
* Status Hezbollah di Lebanon: Hezbollah bukan entitas asing di Lebanon; mereka adalah bagian integral dari lanskap politik dan sosial negara itu. Upaya ‘penundukan’ dari luar akan dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan Lebanon dan berpotensi memicu gejolak internal yang serius.
* Kebijakan AS Terhadap Suriah: Usulan ini juga bertentangan dengan kebijakan luar negeri AS yang telah lama mengisolasi rezim Assad dan memberlakukan sanksi berat terhadapnya karena pelanggaran hak asasi manusia dan penggunaan senjata kimia. Berdialog atau meminta bantuan dari Damaskus untuk masalah regional merupakan pergeseran kebijakan yang drastis dan kontroversial.

### Ingatan Pahit Intervensi Suriah di Lebanon

Bagi Lebanon, gagasan tentang intervensi Suriah, dalam bentuk apa pun, membangkitkan ingatan pahit. Suriah menduduki Lebanon selama hampir 30 tahun (1976-2005) setelah perang saudara Lebanon, dengan kehadiran militer dan politik yang dominan. Periode ini ditandai dengan kontrol politik yang mencekik, tuduhan pembunuhan politik, dan campur tangan dalam urusan internal Lebanon. Penarikan pasukan Suriah pada tahun 2005, yang dikenal sebagai Revolusi Cedar, adalah hasil dari tekanan internasional dan internal setelah pembunuhan mantan Perdana Menteri Rafic Hariri, yang banyak dikaitkan dengan Damaskus dan Hezbollah.

Usulan Trump secara tidak langsung mengisyaratkan legitimasi bagi Suriah untuk kembali memproyeksikan kekuatan ke Lebanon, sebuah prospek yang menakutkan bagi banyak warga Lebanon yang telah berjuang keras untuk menegaskan kembali kedaulatan negara mereka. Kekhawatiran ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang potensi dampak pada stabilitas politik dan keamanan Lebanon yang saat ini sudah sangat rapuh. Untuk lebih memahami konteks kompleks politik Lebanon dan peran Hezbollah, artikel dari Council on Foreign Relations ini memberikan gambaran yang mendalam.

### Implikasi Regional dan Dilema Kebijakan AS

Usulan semacam ini juga memiliki implikasi signifikan terhadap dinamika regional yang lebih luas. Iran, sebagai sponsor utama Hezbollah dan sekutu Suriah, kemungkinan besar akan menolak gagasan apa pun yang bertujuan melemahkan salah satu proksinya yang paling efektif. Israel, yang menganggap Hezbollah sebagai ancaman keamanan utama di perbatasan utaranya, mungkin melihat proposal tersebut dengan skeptisisme tinggi, mengingat ketidakmungkinan Suriah yang bersekutu dengan Iran untuk menundukkan Hezbollah.

Bagi Amerika Serikat, usulan semacam itu menciptakan dilema kebijakan luar negeri yang serius. Ini mempertanyakan komitmen AS terhadap kedaulatan Lebanon dan pada saat yang sama, mengaburkan garis kebijakan terhadap rezim Assad yang telah lama diisolasi. Menggabungkan upaya stabilisasi regional dengan pengakuan tersirat terhadap peran Assad dapat merusak kredibilitas AS di antara sekutunya di Timur Tengah yang menentang rezim Damaskus.

Secara keseluruhan, proposal mantan Presiden Trump untuk meminta Suriah menundukkan Hezbollah adalah contoh nyata dari kesalahpahaman mendalam tentang kompleksitas geopolitik dan historis Timur Tengah. Alih-alih menawarkan solusi, gagasan itu justru memicu kekhawatiran dan mengingatkan pada masa lalu yang kelam, memperjelas bahwa pendekatan terhadap isu-isu regional yang sensitif harus didasarkan pada pemahaman yang cermat terhadap dinamika lokal dan regional.