Megawati dan Relevansi Trisakti Bung Karno dalam Strategi Ketahanan Pangan Nasional

Mengukuhkan Spirit Trisakti di Makam Proklamator

Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Sukarnoputri, bersama sejumlah tokoh partai, baru-baru ini melakukan ziarah ke makam proklamator Republik Indonesia, Ir. Soekarno, di Blitar. Kunjungan yang sarat makna ini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali relevansi nilai-nilai Pancasila dan Trisakti Bung Karno dalam menjawab tantangan kebangsaan kontemporer, khususnya terkait isu ketahanan pangan. Pernyataan dari Sekretaris Jenderal PDIP, Said Abdullah, yang menyoroti ‘Nilai dari Bung Karno hingga Kini: Trisakti’, semakin memperkuat narasi bahwa ideologi pendiri bangsa masih sangat relevan sebagai panduan strategis.

Fokus utama penegasan ini adalah bagaimana prinsip Trisakti, yang mencakup Berdaulat dalam Politik, Berdikari dalam Ekonomi, dan Berkepribadian dalam Kebudayaan, dapat menjadi landasan kokoh bagi upaya mewujudkan kemandirian pangan. Di tengah gejolak ekonomi global dan ancaman krisis pangan yang membayangi, PDIP melihat bahwa konsep Berdikari dalam Ekonomi, yang menuntut bangsa untuk berdiri di atas kaki sendiri, adalah kunci untuk memastikan ketersediaan, keterjangkauan, dan keberlanjutan pasokan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia. Ziarah ini bukan sekadar ritual penghormatan, melainkan penegasan filosofis dan ideologis untuk merumuskan langkah-langkah konkret ke depan dalam menghadapi persoalan krusial ini. Mengingat Bung Karno sendiri adalah penggagas penting konsep kedaulatan pangan, penegasan ini menjadi resonansi historis yang kuat bagi strategi masa kini dan mendatang.

Relevansi Trisakti di Tengah Tantangan Pangan Global

Globalisasi, perubahan iklim, serta dinamika geopolitik telah menciptakan ketidakpastian yang signifikan dalam rantai pasok pangan dunia. Ketergantungan pada impor, fluktuasi harga komoditas global, dan ancaman krisis energi secara langsung berdampak pada stabilitas harga dan pasokan pangan di dalam negeri. Dalam konteks inilah, gagasan Trisakti, khususnya Berdikari dalam Ekonomi, menemukan urgensi yang luar biasa. Konsep ini mendorong bangsa untuk:

  • Mengoptimalkan potensi sumber daya alam dan manusia dalam negeri untuk produksi pangan.
  • Mengurangi ketergantungan pada impor bahan pangan pokok.
  • Membangun ekosistem pertanian yang kuat dari hulu ke hilir.
  • Meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan sebagai garda terdepan ketahanan pangan.
  • Mengembangkan diversifikasi pangan lokal untuk mengurangi dominasi satu jenis komoditas.

Penegasan Megawati dan jajaran PDIP mengingatkan bahwa strategi ketahanan pangan tidak bisa hanya bersifat teknis-ekonomis, tetapi harus pula berakar pada ideologi bangsa yang mendorong kemandirian dan keberdaulatan. Ini adalah respons ideologis terhadap tantangan yang memerlukan solusi fundamental, bukan hanya reaktif. Sejarah mencatat bahwa Bung Karno selalu menekankan pentingnya pangan sebagai salah satu pilar utama kemerdekaan sejati, sebuah amanat yang kini dihidupkan kembali.

Membangun Kemandirian Pangan Berbasis Trisakti

Penerapan Trisakti dalam konteks ketahanan pangan menuntut pendekatan multi-sektoral dan berkelanjutan. Berdaulat dalam Politik berarti kemampuan negara untuk merumuskan dan melaksanakan kebijakan pangan yang prorakyat tanpa intervensi asing yang merugikan. Ini mencakup perlindungan lahan pertanian, pengaturan tata niaga pangan, dan negosiasi perdagangan yang adil. Sementara itu, Berkepribadian dalam Kebudayaan mendorong penguatan identitas pangan lokal, mengapresiasi kearifan lokal dalam pertanian, serta mempromosikan konsumsi pangan khas daerah yang kaya nutrisi.

Secara konkret, langkah-langkah yang dapat diambil untuk mewujudkan kemandirian pangan berbasis Trisakti antara lain:

  • Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pertanian: Peningkatan produktivitas lahan yang ada dan pembukaan lahan baru secara berkelanjutan.
  • Penyediaan Infrastruktur Pangan: Pembangunan irigasi, bendungan, dan fasilitas penyimpanan untuk mengurangi kehilangan hasil panen.
  • Pemberdayaan Petani: Akses terhadap modal, teknologi, bibit unggul, dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas produksi.
  • Penguatan Riset dan Inovasi: Pengembangan varietas tanaman tahan hama dan iklim, serta teknologi pertanian modern yang efisien.
  • Diversifikasi Pangan: Mendorong konsumsi sumber karbohidrat dan protein selain beras, seperti sagu, jagung, umbi-umbian, dan produk perikanan.

Penegasan relevansi Trisakti untuk ketahanan pangan ini bukan hal baru dalam diskursus PDIP. Sejak awal kemerdekaan, gagasan tentang kemandirian ekonomi, termasuk pangan, selalu menjadi nafas kebijakan yang diusung oleh partai yang mewarisi ideologi Bung Karno. Ini merupakan konsistensi dalam upaya mencapai cita-cita kemandirian bangsa yang terhubung erat dengan visi pendiri bangsa.

Implementasi dan Tantangan ke Depan

Menegaskan relevansi Trisakti adalah satu hal, mengimplementasikannya secara efektif adalah tantangan berikutnya. Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat perlu berkolaborasi erat untuk menerjemahkan nilai-nilai luhur ini menjadi program dan kebijakan yang konkret. Konsistensi kebijakan, alokasi anggaran yang memadai, serta pengawasan yang ketat adalah prasyarat mutlak untuk mencapai tujuan ketahanan pangan yang mandiri dan berdaulat. Upaya ini memerlukan komitmen jangka panjang, melampaui siklus politik sesaat. Sebagai negara agraris-maritim, Indonesia memiliki potensi besar untuk mencapai kemandirian pangan, asalkan prinsip-prinsip Berdikari dalam Ekonomi dapat dijalankan secara konsisten dan terarah.

Sumber: Kementerian Keuangan RI