Dua ikon Manchester United, Paul Scholes dan Nicky Butt, melontarkan kritik keras terhadap sikap tim nasional Argentina sepanjang pergelaran Piala Dunia 2022 di Qatar. Menurut mereka, perilaku skuad Albiceleste, terutama dalam laga-laga krusial, sangat jauh dari kesan sportif dan bahkan disebut ‘memalukan’. Perdebatan sengit di partai final yang penuh drama pun turut menjadi sorotan utama.
Komentar pedas dari Scholes dan Butt ini kembali menghangatkan diskusi mengenai etika dan sportivitas dalam sepak bola modern, khususnya setelah Argentina berhasil merengkuh trofi juara dunia ketiga mereka. Keduanya menyoroti bahwa, terlepas dari keberhasilan di lapangan, cara tim asuhan Lionel Scaloni meraihnya meninggalkan kesan negatif bagi sebagian pengamat sepak bola dunia.
Kritik Pedas dari Legenda Old Trafford
Paul Scholes, gelandang legendaris yang dikenal dengan visinya yang tajam dan komentar blak-blakan, mengungkapkan rasa tidak senangnya terhadap serangkaian insiden yang melibatkan pemain-pemain Argentina. Ia secara spesifik merujuk pada beberapa provokasi dan perayaan yang dianggap berlebihan serta kurang menghargai lawan. Senada dengan Scholes, Nicky Butt, mantan gelandang bertahan tangguh MU, juga menyatakan kekecewaannya.
Menurut Butt, jika bukan karena kehadiran dan karisma Lionel Messi, tim Argentina berpotensi menjadi salah satu tim yang paling tidak disukai di kancah sepak bola internasional. “Tanpa Messi, Argentina bisa jadi tim yang paling dibenci. Mereka sangat provokatif, dan beberapa hal yang mereka lakukan di final itu memalukan,” ujar Butt dalam sebuah wawancara, menggarisbawahi bagaimana aura bintang Messi seolah menutupi perilaku kontroversial tim.
Kritik ini bukan yang pertama kali diarahkan kepada Argentina pasca-Piala Dunia 2022. Beberapa momen yang sering diperdebatkan termasuk:
- Insiden Emiliano MartĂnez: Kiper Argentina itu menjadi pusat perhatian karena sejumlah aksi kontroversialnya, mulai dari perayaan trofi sarung tangan emas yang dianggap vulgar hingga provokasi terhadap pemain lawan, terutama setelah pertandingan melawan Belanda.
- Provokasi terhadap Belanda: Pertandingan perempat final melawan Belanda diwarnai friksi dan adu mulut yang intens, bahkan setelah adu penalti berakhir. Sejumlah pemain Argentina terlihat merayakan kemenangan di depan pemain Belanda yang kecewa.
- Perayaan di Final: Meskipun euforia kemenangan adalah hal wajar, beberapa perilaku pemain Argentina setelah final melawan Prancis, termasuk nyanyian provokatif terhadap Kylian Mbappé, menuai kecaman dari berbagai pihak dan menimbulkan perdebatan tentang batas sportivitas.
Messi: Penyelamat Reputasi Argentina?
Pandangan bahwa Lionel Messi adalah penyeimbang dan penyelamat reputasi Argentina menjadi poin krusial dalam analisis ini. Keberadaan Messi, yang dikenal dengan sikap tenang, rendah hati, dan profesionalismenya, diyakini mampu meredam citra negatif yang mungkin muncul akibat tingkah laku rekan-rekannya. Perjalanan emosional Messi untuk meraih trofi yang selama ini diidam-idamkan juga menciptakan simpati global, yang seolah membayangi setiap kontroversi timnya.
Scholes dan Butt menyiratkan bahwa pesona dan kejeniusan sepak bola Messi membuat banyak orang cenderung mengabaikan atau memaafkan provokasi yang dilakukan pemain Argentina lainnya. Tanpa karisma Messi, pandangan publik terhadap tim juara Piala Dunia 2022 ini mungkin akan jauh berbeda, dan mereka mungkin akan dicap sebagai tim yang kurang menghormati lawan.
Etika dan Sportivitas dalam Sepak Bola Modern
Debat mengenai batas antara gairah dan perilaku tidak sportif selalu menjadi topik hangat dalam dunia sepak bola. Bagi Scholes dan Butt, apa yang ditampilkan Argentina di Piala Dunia 2022 melampaui batas gairah dan masuk kategori tidak etis. Ini memicu pertanyaan lebih lanjut tentang standar sportivitas yang diharapkan dari tim-tim papan atas yang menjadi teladan bagi jutaan penggemar.
Pada akhirnya, meskipun Argentina berhasil mencapai puncak kejayaan sepak bola, komentar dari legenda-legenda seperti Scholes dan Butt berfungsi sebagai pengingat bahwa kemenangan di lapangan bukan satu-satunya ukuran kesuksesan. Citra, etika, dan sportivitas juga memegang peranan penting dalam warisan sebuah tim di mata dunia, membentuk narasi yang melampaui skor akhir pertandingan.