Eskalasi di Lebanon: Israel Hancurkan Terowongan Senjata Hizbullah, Perjanjian Damai Terancam

Israel melancarkan serangan udara presisi yang menghancurkan sebuah terowongan bawah tanah besar milik Hizbullah di wilayah Lebanon selatan, dekat perbatasan yang bergejolak. Insiden ini, yang diklaim Tel Aviv sebagai respons terhadap ancaman keamanan, segera memicu kemurkaan dari kelompok militan yang didukung Iran tersebut, lengkap dengan ancaman balasan serius. Perkembangan ini mengancam untuk meruntuhkan fondasi kesepakatan de-eskalasi dan demarkasi perbatasan yang baru saja tercapai antara kedua negara, yang mediasi oleh PBB.

Operasi militer Israel, yang diumumkan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pada dini hari, menargetkan infrastruktur yang disebut sebagai ‘terowongan teror’ yang menembus ke wilayah Israel. IDF mengklaim terowongan itu berisi ratusan unit senjata, mulai dari amunisi ringan hingga bahan peledak, yang siap digunakan dalam serangan lintas batas. Juru bicara militer Israel menegaskan bahwa tindakan ini adalah langkah defensif untuk menetralisir ancaman nyata terhadap warga sipil Israel dan kedaulatan negara.

### Eskalasi di Tengah Perjanjian Damai

Serangan ini terjadi hanya beberapa minggu setelah Israel dan Lebanon menandatangani perjanjian demarkasi perbatasan maritim yang dipuji secara luas sebagai langkah maju menuju stabilitas regional. Kesepakatan yang ditengahi oleh Amerika Serikat dan PBB tersebut, diharapkan dapat mengurangi ketegangan bertahun-tahun dan membuka jalan bagi eksplorasi sumber daya energi. Banyak pihak melihatnya sebagai peluang langka untuk membangun kepercayaan antara dua musuh bebuyutan.

Namun, penghancuran terowongan Hizbullah ini secara drastis mengubah lanskap politik dan keamanan. Tindakan Israel dianggap oleh Beirut sebagai pelanggaran kedaulatan Lebanon yang mencolok, mencederai semangat perjanjian dan memicu kembali memori konflik bersenjata sebelumnya. Kritikus menyatakan bahwa tindakan ini, terlepas dari justifikasinya, dapat menjadi pemicu spiral kekerasan yang sulit dikendalikan, terutama mengingat sensitivitas perbatasan dan kehadiran pasukan UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) di area tersebut.

### Reaksi Keras dari Hizbullah dan Peringatan Balasan

Menyusul serangan tersebut, Hizbullah dengan cepat mengeluarkan pernyataan keras. Kelompok tersebut mengutuk serangan Israel sebagai ‘tindakan agresi terang-terangan’ dan ‘pelanggaran keji terhadap kedaulatan Lebanon’. Sekretaris Jenderal Hizbullah, Hassan Nasrallah, dalam pidato yang disiarkan televisi, memperingatkan Israel bahwa ‘agresi tidak akan dibiarkan tanpa balasan’. Ia menegaskan bahwa kelompoknya memiliki hak penuh untuk merespons pada waktu dan tempat yang mereka pilih, menggarisbawahi kesiapan militernya.

Ancaman ini tidak bisa dianggap remeh, mengingat kapasitas militer Hizbullah yang teruji dan sejarah panjang konfrontasinya dengan Israel, termasuk perang dahsyat pada tahun 2006. Peringatan dari Hizbullah secara langsung menempatkan seluruh wilayah perbatasan dalam kondisi siaga tinggi, dengan kedua belah pihak meningkatkan patroli dan kesiapsiagaan tempur.

### Latar Belakang Konflik Abadi di Perbatasan

Hubungan antara Israel dan Hizbullah selalu diliputi oleh ketegangan dan konflik berkepanjangan. Sejak penarikan Israel dari Lebanon selatan pada tahun 2000, Hizbullah telah memperkuat posisinya sebagai kekuatan politik dan militer dominan di Lebanon. Israel, di sisi lain, secara konsisten memandang Hizbullah sebagai proxy Iran yang mengancam keamanan utaranya. Penemuan terowongan lintas batas bukanlah hal baru; sebelumnya, IDF telah melancarkan operasi besar untuk menghancurkan jaringan terowongan serupa, seperti Operasi Perisai Utara pada tahun 2018-2019, yang juga menargetkan infrastruktur bawah tanah Hizbullah. Insiden-insiden masa lalu ini:

* Menunjukkan upaya Hizbullah untuk membangun infrastruktur serangan tersembunyi.
* Menggarisbawahi tekad Israel untuk mencegah setiap pelanggaran keamanan di perbatasannya.
* Menyebabkan seringnya eskalasi di area sensitif.

### Seruan Internasional untuk De-eskalasi

Menanggapi insiden terbaru ini, komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amerika Serikat, dan Uni Eropa, telah menyerukan semua pihak untuk menahan diri. Utusan PBB untuk Lebanon menyatakan keprihatinan mendalam atas memburuknya situasi dan mendesak kedua belah pihak untuk mematuhi Resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan dan menghindari tindakan provokatif lebih lanjut. Washington juga mengeluarkan pernyataan yang mendesak de-eskalasi segera dan meminta semua pihak untuk kembali ke meja perundingan demi menjaga stabilitas yang rapuh di Timur Tengah.

Situasi di perbatasan Israel-Lebanon tetap sangat cair. Dengan ancaman balasan yang menggantung di udara dan potensi konflik yang meningkat, mata dunia kini tertuju pada kedua belah pihak, berharap agar kearifan dan diplomasi dapat mencegah eskalasi yang lebih luas dan merusak di wilayah tersebut.