Bank Indonesia (BI) akan memiliki nahkoda baru di periode mendatang. Destry Damayanti, seorang ekonom berpengalaman, resmi ditunjuk dan dikukuhkan sebagai Gubernur Bank Indonesia untuk masa bakti 2026-2031. Dalam pernyataan perdananya, Destry Damayanti menegaskan komitmennya untuk berfokus pada apa yang ia sebut sebagai prinsip 3I+S. Langkah strategis ini diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional serta memperkuat sinergi antara Bank Indonesia dengan berbagai kementerian terkait.
Penunjukan ini menandai periode penting bagi perjalanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang terus berubah. Dengan masa tugas yang baru akan dimulai dua tahun lagi, penunjukan ini memberikan waktu yang cukup bagi Destry Damayanti untuk mempersiapkan visi dan strategi jangka panjangnya, memastikan transisi kepemimpinan berjalan mulus demi keberlanjutan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.
Visi Strategis Berbasis Prinsip 3I+S
Destry Damayanti menguraikan bahwa prinsip 3I+S akan menjadi tulang punggung kepemimpinannya di Bank Indonesia. Meskipun tidak dirinci secara spesifik definisi masing-masing ‘I’ dan ‘S’ dalam konteks pernyataannya, berdasarkan rekam jejak dan tugas Bank Indonesia, prinsip ini dapat diinterpretasikan sebagai:
- Integritas: Menjaga kepercayaan publik melalui transparansi dan akuntabilitas dalam setiap kebijakan moneter dan makroprudensial. Integritas adalah fondasi utama bagi sebuah bank sentral yang independen.
- Inovasi: Mengadopsi teknologi dan pendekatan baru dalam perumusan kebijakan, serta mendorong inovasi di sektor keuangan untuk efisiensi dan inklusivitas. Era digital menuntut respons kebijakan yang adaptif.
- Inklusivitas: Memastikan bahwa kebijakan Bank Indonesia memberikan manfaat yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat dan pelaku usaha, termasuk dukungan terhadap UMKM dan keuangan syariah.
- Sinergi: Mempererat koordinasi dan kolaborasi dengan kementerian dan lembaga pemerintah lainnya untuk mencapai tujuan ekonomi nasional yang terintegrasi. Sinergi ini krusial untuk menghadapi tantangan ekonomi multidimensional.
Fokus ini bukan sekadar retorika, melainkan cerminan kebutuhan mendesak untuk menjaga kemandirian Bank Indonesia sekaligus memastikan bahwa kebijakan moneter selaras dengan kebijakan fiskal dan sektoril pemerintah. Bank Indonesia, sebagai otoritas moneter, memiliki peran vital dalam mengendalikan inflasi, menstabilkan nilai tukar rupiah, dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Memperkuat Pilar Stabilitas Ekonomi Nasional
Stabilitas ekonomi merupakan prasyarat utama bagi pertumbuhan yang berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Destry Damayanti menyadari betul tantangan berat yang menanti. Fluktuasi ekonomi global, tekanan inflasi dari harga komoditas, serta ketidakpastian geopolitik menjadi beberapa faktor eksternal yang memerlukan kewaspadaan tinggi. Dari sisi internal, menjaga daya beli masyarakat dan mendorong investasi juga menjadi prioritas.
Pendekatan 3I+S akan diimplementasikan untuk memastikan bahwa Bank Indonesia tetap menjadi garda terdepan dalam mitigasi risiko ekonomi. Ini mencakup:
- Pengelolaan inflasi yang prudent melalui instrumen suku bunga acuan.
- Manajemen nilai tukar yang fleksibel namun stabil untuk mendukung ekspor dan impor.
- Pengawasan sistem pembayaran yang efisien dan aman.
- Penguatan kerangka makroprudensial untuk menjaga stabilitas sektor keuangan secara keseluruhan.
Tugas berat ini menuntut tidak hanya keahlian teknis tetapi juga kemampuan adaptasi terhadap perubahan kondisi ekonomi yang cepat.
Sinergi Lintas Kementerian: Kunci Kebijakan Holistik
Aspek ‘S’ dari 3I+S, yakni sinergi, menjadi penekanan penting dalam visi Destry Damayanti. Bank Indonesia tidak dapat bekerja sendiri dalam mencapai tujuan ekonomi makro. Koordinasi erat dengan Kementerian Keuangan dalam pengelolaan fiskal, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dalam perumusan kebijakan ekonomi, serta lembaga lainnya seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) adalah mutlak.
Sinergi ini penting untuk menciptakan kebijakan ekonomi yang holistik dan komprehensif. Sebagai contoh, kebijakan moneter Bank Indonesia harus didukung oleh kebijakan fiskal yang bertanggung jawab agar inflasi dapat terkendali tanpa menghambat pertumbuhan. Kolaborasi ini juga krusial dalam mengembangkan sektor keuangan, termasuk digitalisasi dan inklusi keuangan, yang memerlukan dukungan regulasi dari berbagai pihak. Pengalaman Destry Damayanti sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia sebelumnya diharapkan menjadi modal kuat untuk membangun jembatan komunikasi dan koordinasi ini.
Penunjukan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia untuk periode 2026-2031 menandai babak baru bagi Bank Indonesia. Dengan fokus pada prinsip 3I+S, ia membawa harapan besar untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah tantangan global, seraya memperkuat kerja sama lintas sektor demi kemajuan ekonomi Indonesia yang lebih baik.