Pemerintah secara resmi menetapkan Bandara Husein Sastranegara di Bandung akan kembali melayani penerbangan komersial berjadwal. Kebijakan strategis ini dijadwalkan efektif mulai 17 September 2026, menandai perubahan signifikan dalam peta layanan transportasi udara di Jawa Barat. Keputusan ini datang bersamaan dengan penetapan peran baru bagi Bandara Kertajati, yang kini akan difokuskan sebagai pusat perawatan pesawat militer, khususnya untuk pesawat Hercules, serta hub kargo dan penerbangan haji/umrah.
Pengembalian fungsi komersial ke Bandara Husein Sastranegara diharapkan dapat menjawab kebutuhan aksesibilitas yang tinggi dari masyarakat Bandung Raya dan sekitarnya. Sebelumnya, seluruh penerbangan komersial berjadwal dari Husein Sastranegara telah direlokasi ke Bandara Kertajati, Majalengka, dalam upaya mengoptimalkan operasional bandara baru tersebut. Namun, evaluasi menunjukkan adanya tantangan dalam hal akses dan preferensi penumpang, yang membuat Bandara Husein Sastranegara kembali dipertimbangkan sebagai opsi vital untuk penerbangan domestik jarak pendek dan menengah.
Evaluasi Kebijakan Relokasi dan Kebutuhan Aksesibilitas
Keputusan untuk mengalihkan seluruh penerbangan komersial dari Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati pada tahun 2023 silam merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk mengembangkan Kertajati sebagai hub penerbangan internasional yang modern dan besar. Kertajati dirancang untuk memiliki kapasitas yang jauh lebih besar dibandingkan Husein Sastranegara, dengan fasilitas yang lebih lengkap dan landasan pacu yang lebih panjang. Namun, implementasi kebijakan ini menghadapi berbagai kendala, terutama terkait aksesibilitas dari pusat kota Bandung yang cukup jauh dan minimnya konektivitas transportasi publik yang memadai.
Masyarakat Bandung dan sekitarnya kerap mengeluhkan waktu tempuh yang lama dan biaya yang tinggi untuk mencapai Kertajati. Hal ini menyebabkan penurunan minat terhadap penerbangan dari Kertajati untuk rute-rute domestik yang sebelumnya ramai dilayani dari Husein Sastranegara.
“Kertajati memang bandara megah dengan potensi besar, namun aksesibilitas menjadi PR utama. Dengan kembalinya Husein, kita melihat adanya respons pemerintah terhadap aspirasi masyarakat dan dinamika pasar,” ujar seorang pengamat penerbangan lokal.
Bandara Kertajati: Sentra Baru untuk Perawatan Hercules dan Kargo
Seiring dengan kembalinya fungsi komersial Husein Sastranegara, Bandara Kertajati tidak lantas kehilangan peran strategisnya. Justru, pemerintah menetapkan Kertajati sebagai pusat spesialisasi yang baru, fokus pada:
- Perawatan Pesawat Militer: Kertajati akan menjadi ‘bengkel’ utama untuk pesawat angkut militer strategis seperti Hercules C-130, memanfaatkan area luas dan fasilitas perawatan yang memadai.
- Hub Kargo: Dengan kapasitas landasan dan apron yang besar, Kertajati sangat ideal untuk mengembangkan layanan kargo udara, mendukung logistik industri di Jawa Barat.
- Penerbangan Haji dan Umrah: Peran Kertajati sebagai embarkasi dan debarkasi haji/umrah akan terus diperkuat, melayani jemaah dari berbagai daerah di Jawa Barat.
- Potensi Penerbangan Internasional Terpilih: Meskipun fokus komersial domestik beralih, Kertajati masih memiliki potensi untuk melayani rute internasional tertentu yang membutuhkan fasilitas lebih besar atau untuk tujuan kargo dan charter.
Pembagian peran ini dinilai sebagai langkah efisien untuk mengoptimalkan kedua bandara. Husein Sastranegara akan fokus pada segmen penumpang yang membutuhkan kepraktisan dan akses cepat dari pusat kota, sementara Kertajati menggarap ceruk pasar spesifik yang membutuhkan fasilitas skala besar.
Dampak dan Implikasi Kebijakan Baru
Keputusan ini diprediksi akan membawa dampak signifikan di berbagai sektor. Beberapa implikasi kunci meliputi:
- Peningkatan Konektivitas: Masyarakat Bandung Raya akan kembali menikmati kemudahan akses penerbangan domestik, mengurangi waktu tempuh dan biaya perjalanan ke bandara.
- Stimulus Ekonomi Lokal: Kembalinya penerbangan komersial di Husein Sastranegara berpotensi menghidupkan kembali sektor pariwisata dan bisnis di kota Bandung, yang sempat terdampak oleh relokasi sebelumnya.
- Efisiensi Maskapai: Maskapai penerbangan dapat kembali mengkaji rute-rute populer dari Bandung, mengoptimalkan okupansi dan keuntungan dengan basis penumpang yang lebih mudah dijangkau.
- Penguatan Sektor Logistik: Pengembangan Kertajati sebagai hub kargo akan mendukung pertumbuhan industri ekspor-impor di Jawa Barat, mempercepat distribusi barang.
- Optimalisasi Aset Negara: Kedua bandara dapat beroperasi secara lebih optimal sesuai dengan karakteristik dan keunggulannya masing-masing, menghindari persaingan tidak sehat dan memaksimalkan nilai investasi.
Keputusan pemerintah untuk mengoperasikan kembali Bandara Husein Sastranegara untuk penerbangan komersial berjadwal pada 17 September 2026, diiringi dengan spesialisasi Kertajati sebagai hub perawatan militer dan kargo, menunjukkan pendekatan adaptif dalam pengelolaan infrastruktur transportasi udara. Strategi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem penerbangan yang lebih seimbang, efisien, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat serta dinamika pasar.
Artikel terkait: Analisis Tantangan Operasional Bandara Kertajati Pasca Relokasi Penerbangan