Pusaran kepanikan melanda Desa Sengonwetan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, setelah seorang pria yang diduga mengalami gangguan jiwa (ODGJ) secara brutal membacok enam warga pada Selasa malam, 21 Mei 2024. Insiden mengerikan ini terjadi tanpa peringatan, meninggalkan korban dengan luka serius dan masyarakat dalam ketakutan mendalam, sekaligus menyoroti kembali persoalan penanganan kesehatan jiwa di tengah masyarakat.
Kejadian nahas tersebut berlangsung sekitar pukul 19.30 WIB di Dukuh Kedung Banteng, Desa Sengonwetan. Pelaku, yang diidentifikasi berinisial S (45), tiba-tiba mengamuk dan menyerang siapa saja yang ditemuinya dengan sebilah parang. Korban yang sebagian besar adalah tetangga S, tidak sempat menghindar dari serangan mendadak tersebut. Enam orang menderita luka bacok di berbagai bagian tubuh, seperti kepala, tangan, dan punggung, sebelum warga lain berhasil melumpuhkan dan mengamankan pelaku.
## Kronologi Amuk Mengerikan di Sengonwetan
Menurut keterangan saksi mata, kengerian bermula ketika S terlihat mondar-mandir di sekitar rumahnya dengan gelagat mencurigakan. Tak lama kemudian, ia mengeluarkan parang dan langsung menyerang warga pertama yang berpapasan dengannya. Korban pertama adalah seorang petani yang sedang berjalan pulang dari ladang. Melihat insiden tersebut, beberapa warga mencoba melerai, namun justru menjadi sasaran amukan S berikutnya. Situasi menjadi sangat mencekam, dengan teriakan minta tolong memecah keheningan malam.
“Kami semua panik. S tiba-tiba saja menyerang tanpa bicara apa-apa. Beberapa orang yang mencoba menenangkan justru ikut terluka,” ungkap Budi Santoso (48), salah satu warga yang menyaksikan kejadian tersebut dengan ketakutan. “Kami terpaksa menggunakan kayu dan batu untuk melumpuhkannya setelah beberapa tetangga lain juga terluka parah.” Kekuatan dan kegarangan pelaku menyulitkan warga untuk mengendalikan situasi, hingga akhirnya sejumlah pria dewasa berhasil membekuknya dan mengikatnya agar tidak kembali membahayakan.
## Respons Cepat Aparat dan Kondisi Korban
Setelah berhasil diamankan oleh warga, pelaku S langsung diserahkan kepada pihak kepolisian yang tiba di lokasi tak lama kemudian. Kapolsek Purwodadi, AKP Supardi, membenarkan kejadian tersebut dan menjelaskan bahwa timnya segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi. “Pelaku sudah kami amankan dan saat ini sedang dalam proses pemeriksaan awal. Informasi awal dari keluarga menyebutkan pelaku memang diduga memiliki riwayat gangguan jiwa,” ujar AKP Supardi, menekankan perlunya evaluasi medis lebih lanjut untuk memastikan kondisi kejiwaan S.
Sementara itu, keenam korban pembacokan segera dilarikan ke RSUD Dr. Soedjati Purwodadi untuk mendapatkan penanganan medis intensif. Kondisi para korban dilaporkan stabil, namun beberapa di antaranya harus menjalani perawatan serius akibat luka dalam dan risiko infeksi. Dokter jaga di IGD RSUD Dr. Soedjati Purwodadi menyatakan bahwa tim medis berupaya maksimal untuk memastikan pemulihan optimal bagi para korban. Pihak rumah sakit juga berkoordinasi dengan kepolisian terkait visum et repertum untuk keperluan penyelidikan.
## Mengurai Akar Masalah: ODGJ dan Stigma Sosial
Insiden di Grobogan ini kembali menjadi pengingat pahit tentang kompleksitas isu orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Indonesia. Banyak kasus serupa menunjukkan bahwa kurangnya akses terhadap layanan kesehatan mental yang memadai, minimnya edukasi masyarakat, serta stigma sosial yang melekat pada ODGJ seringkali berujung pada kejadian tragis. Alih-alih mendapatkan perawatan dan dukungan, banyak ODGJ justru dipasung atau diabaikan, memperparah kondisi mereka dan meningkatkan potensi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kasus-kasus seperti ini seringkali menunjukkan kegagalan sistem kita dalam menangani kesehatan jiwa secara komprehensif,” kata Dr. Rahayu Kartika, seorang psikiater yang aktif dalam advokasi kesehatan mental. “Stigma membuat keluarga enggan mencari bantuan profesional, dan fasilitas kesehatan jiwa di daerah seringkali kurang memadai. Akibatnya, mereka yang membutuhkan pertolongan justru terisolasi dan berisiko membahayakan diri sendiri atau orang lain.” Kejadian ini menambah daftar panjang insiden serupa yang pernah terjadi di berbagai daerah, menggambarkan pola masalah yang belum terselesaikan secara tuntas.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah orang dengan masalah kesehatan mental terus meningkat, termasuk di Indonesia. WHO sendiri terus mendorong pemerintah Indonesia untuk melakukan penanganan komprehensif isu kesehatan mental. Anda dapat membaca lebih lanjut tentang dorongan WHO di tautan ini: [WHO Dorong Pemerintah Indonesia Lakukan Penanganan Komprehensif Isu Kesehatan Mental](https://www.who.int/indonesia/news/detail/29-05-2024-who-dorong-pemerintah-indonesia-lakukan-penanganan-komprehensif-isu-kesehatan-mental-di-indonesia).
## Mendesak Peningkatan Sistem Kesehatan Jiwa
Peristiwa di Sengonwetan ini harus menjadi momentum bagi semua pihak untuk meningkatkan perhatian terhadap kesehatan jiwa. Beberapa langkah krusial yang perlu dipercepat antara lain:
* Peningkatan Akses Layanan: Memperbanyak dan meratakan fasilitas kesehatan jiwa di tingkat puskesmas hingga rumah sakit daerah, termasuk ketersediaan tenaga profesional seperti psikiater dan psikolog.
* Edukasi dan Kampanye Anti-Stigma: Menggalakkan sosialisasi untuk mengubah persepsi masyarakat terhadap ODGJ, bahwa mereka adalah individu yang butuh pertolongan dan dukungan, bukan objek ketakutan atau ejekan.
* Peran Aktif Keluarga dan Komunitas: Mendorong keluarga untuk lebih proaktif dalam mencari bantuan jika ada anggota keluarga yang menunjukkan gejala gangguan jiwa, serta membangun sistem dukungan komunitas yang solid.
* Regulasi dan Kebijakan: Mendorong pemerintah daerah untuk membuat regulasi yang mendukung penanganan ODGJ, termasuk anggaran khusus untuk program kesehatan jiwa.
Amukan di Grobogan ini bukan hanya sekadar berita kriminal, melainkan cermin dari tantangan besar yang dihadapi bangsa ini dalam mewujudkan masyarakat yang sehat secara fisik dan mental. Penanganan ODGJ yang humanis, komprehensif, dan terintegrasi adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan lingkungan yang aman dan berdaya bagi semua.
Pihak kepolisian masih terus mendalami kasus ini, termasuk berkoordinasi dengan pihak terkait untuk penanganan medis dan kejiwaan pelaku S, guna memastikan keadilan bagi korban dan penanganan yang tepat bagi terduga pelaku.