BERAU – Pemerintah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, secara serius mendorong seluruh kampung dan kelurahan di wilayahnya untuk mengimplementasikan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Inisiatif ini merupakan langkah strategis dalam upaya kolektif memutus rantai penularan berbagai penyakit menular, khususnya diare, yang masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan publik. Dengan partisipasi aktif masyarakat, Berau menargetkan pencapaian lingkungan hidup yang lebih sehat dan kualitas hidup yang lebih baik bagi seluruh warganya.
Ajakan ini datang sebagai respons atas masih tingginya kasus penyakit berbasis lingkungan di beberapa daerah, sekaligus mengukuhkan komitmen Pemkab Berau dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) terkait akses sanitasi dan air bersih. Melalui STBM, pemerintah tidak hanya menyediakan fasilitas, tetapi juga mengedukasi dan memberdayakan masyarakat agar secara mandiri mampu mengelola sanitasi dan kebersihan diri serta lingkungannya. Program ini bukan sekadar upaya sporadis, melainkan sebuah gerakan berkelanjutan yang menuntut perubahan perilaku secara fundamental.
Pentingnya Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan pendekatan holistik yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan program sanitasi. Konsep ini mengakui bahwa penyediaan infrastruktur saja tidak cukup tanpa diikuti dengan perubahan perilaku higienis masyarakat. Di tengah tantangan geografis dan sosial yang kerap dihadapi kampung-kampung di Berau, pendekatan partisipatif ini menjadi sangat relevan. STBM bertujuan untuk memastikan setiap rumah tangga memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak dan menerapkan praktik kebersihan yang benar, secara konsisten.
Pemerintah Berau melihat STBM sebagai investasi jangka panjang bagi kesehatan dan kesejahteraan. Dengan mengurangi beban penyakit menular, masyarakat dapat lebih produktif, anak-anak dapat belajar lebih baik, dan beban biaya kesehatan keluarga serta pemerintah dapat ditekan. Ini selaras dengan visi pembangunan daerah yang mengedepankan kualitas sumber daya manusia dan lingkungan hidup yang lestari. Penerapan STBM juga menjadi indikator penting dalam penilaian kinerja pembangunan daerah.
Lima Pilar Kunci STBM untuk Kesehatan Optimal
STBM berdiri di atas lima pilar utama yang saling terkait dan mendukung satu sama lain. Keberhasilan program sangat bergantung pada implementasi kelima pilar ini secara komprehensif di setiap level masyarakat, mulai dari individu hingga komunitas. Kelima pilar tersebut adalah:
- Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS): Ini adalah pilar fundamental yang bertujuan untuk menghentikan praktik buang air besar di sembarang tempat, yang menjadi sumber utama penyebaran kuman penyakit. Setiap rumah tangga didorong untuk memiliki dan menggunakan jamban sehat.
- Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS): Edukasi dan praktik mencuci tangan dengan sabun pada waktu-waktu kritis (sebelum makan, setelah buang air besar, setelah menceboki bayi, dll.) merupakan cara paling efektif mencegah penularan penyakit.
- Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAM-RT): Pilar ini mengajarkan praktik aman dalam mengelola air minum dan makanan di rumah, mulai dari sumber, penyimpanan, hingga penyajian, guna menghindari kontaminasi.
- Pengamanan Sampah Rumah Tangga: Pengelolaan sampah yang baik, termasuk pemilahan, pengumpulan, dan pembuangan yang benar, sangat krusial untuk mencegah berkembang biaknya vektor penyakit dan menciptakan lingkungan yang bersih.
- Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga: Penanganan limbah cair domestik yang efektif, seperti air bekas cucian dan mandi, penting untuk mencegah pencemaran lingkungan dan sumber air.
Pilar-pilar ini membentuk sebuah sistem pertahanan yang kuat terhadap berbagai ancaman kesehatan lingkungan. Tanpa salah satu pilar, efektivitas keseluruhan program akan berkurang signifikan.
Memutus Rantai Penularan Penyakit Menular
Fokus utama implementasi STBM di Berau adalah memutus rantai penularan penyakit menular. Penyakit seperti diare, tifus, kolera, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) seringkali berawal dari lingkungan yang tidak sehat dan praktik higiene yang buruk. Misalnya, feses yang mencemari tanah atau sumber air dapat menyebarkan bakteri atau virus yang menyebabkan diare. Dengan memastikan tidak ada lagi BABS, mencuci tangan secara teratur, dan mengelola sampah serta limbah dengan benar, masyarakat secara kolektif membangun barikade terhadap agen-agen penyakit tersebut.
Program ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan sebuah agenda bersama yang menuntut kolaborasi erat antara dinas kesehatan, pemerintah desa/kelurahan, tokoh masyarakat, dan terutama, setiap individu di dalam komunitas. Ini merupakan kelanjutan dari berbagai inisiatif kesehatan masyarakat sebelumnya di Berau, yang kini diperkuat dengan pendekatan berbasis komunitas yang lebih terstruktur dan berkesininambungan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai STBM, masyarakat dapat mengunjungi portal resmi Kementerian Kesehatan RI.
Manfaat STBM Jangka Panjang bagi Masyarakat Berau
Manfaat penerapan STBM meluas jauh melampaui sekadar penurunan angka penyakit. Secara jangka panjang, masyarakat Berau akan merasakan dampak positif pada berbagai aspek kehidupan. Peningkatan derajat kesehatan berarti penurunan angka absensi sekolah bagi anak-anak dan peningkatan produktivitas kerja bagi orang dewasa. Ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan dan pertumbuhan ekonomi keluarga. Lingkungan yang bersih dan sehat juga meningkatkan nilai estetika suatu daerah, berpotensi menarik wisatawan, serta mendukung ekosistem alam yang lebih lestari.
Selain itu, kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam mengelola sanitasi akan membentuk komunitas yang lebih tangguh dan responsif terhadap tantangan kesehatan di masa depan. Ini adalah fondasi penting untuk pembangunan Berau yang berkelanjutan, di mana kesehatan bukan lagi menjadi kendala, melainkan aset utama.
Peran Aktif Pemerintah dan Komunitas
Pemerintah Kabupaten Berau menyatakan kesiapannya untuk memberikan dukungan penuh, mulai dari sosialisasi, pelatihan, hingga fasilitasi teknis. Namun, kunci keberhasilan tetap ada pada peran aktif dan kesadaran masyarakat. Setiap kepala keluarga, setiap ketua RT, dan setiap tokoh adat diharapkan menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing. Melalui musyawarah desa/kelurahan, setiap komunitas dapat merumuskan langkah-langkah implementasi STBM yang paling sesuai dengan kondisi lokal mereka.
Diharapkan, dengan sinergi antara kebijakan pemerintah dan inisiatif dari bawah, Berau akan segera mencapai status ODF (Open Defecation Free) atau Bebas Buang Air Besar Sembarangan, serta melangkah menuju Sanitasi Total yang berkelanjutan. Ini adalah visi besar yang membutuhkan komitmen jangka panjang, namun dengan potensi dampak yang luar biasa bagi seluruh warga Berau.