Masjid Jamik Sumenep, Saksi Bisu Harmonisasi Budaya Tionghoa dan Madura
Sebuah keunikan sejarah dan arsitektur membingkai megahnya Masjid Jamik Sumenep, bangunan ibadah berusia ratusan tahun yang berdiri kokoh di ujung Pulau Madura. Bukan sekadar tempat suci, masjid ini menjelma menjadi monumen hidup yang mengisahkan harmonisasi antara masyarakat etnis Tionghoa dan warga Madura, sebuah akulturasi yang mengakar kuat hingga generasi kini.
Para ahli arsitektur dan sejarah berulang kali menyoroti Masjid Jamik Sumenep sebagai contoh nyata kerukunan antarbudaya. Pembangunannya, yang diarsiteki oleh seorang Tionghoa pada masa lalu, meninggalkan jejak-jejak estetik yang menawan, memadukan kekhasan arsitektur lokal dengan sentuhan oriental yang halus namun tegas. Ini bukan hanya cerita tentang seni bangunan, melainkan refleksi mendalam dari interaksi sosial, ekonomi, dan budaya yang berlangsung damai selama berabad-abad di wilayah tersebut.
Akulturasi dalam Setiap Sudut Bangunan
Masjid Jamik Sumenep, yang mulai dibangun pada tahun 1779 Masehi di bawah kepemimpinan Panembahan Notokusumo (Sultan Abdurrahman), memiliki ciri khas yang membuatnya berbeda dari masjid-masjid lain pada umumnya. Pengaruh Tionghoa tidak hadir secara dominan, melainkan terintegrasi secara cerdas, menciptakan perpaduan yang harmonis dan estetis.
Berikut beberapa elemen kunci yang menunjukkan akulturasi tersebut:
- Atap Limas Bertingkat: Bentuk atap masjid yang bertingkat tiga atau lebih, sering disebut atap limas, memiliki kemiripan dengan arsitektur kelenteng atau pura di Jawa. Meskipun telah menjadi gaya yang lazim dalam arsitektur Islam Jawa dan Madura, asal-usulnya sering dikaitkan dengan adaptasi gaya Tionghoa yang populer di era tersebut.
- Ornamen dan Ukiran: Beberapa detail ornamen, meski samar, menampilkan motif flora atau geometris yang sedikit berbeda dari ukiran Madura murni, membawa nuansa Tionghoa yang elegan. Warna-warna seperti merah dan kuning emas, yang khas dalam tradisi Tionghoa, juga terlihat pada beberapa bagian interior maupun eksterior, meskipun dominasi hijau dan putih tetap dipertahankan.
- Penggunaan Material: Keterlibatan arsitek Tionghoa juga mungkin tercermin dalam pemilihan material atau teknik konstruksi yang dibawa dari tradisi mereka, meskipun ini lebih sulit dibuktikan tanpa penelitian mendalam.
Akulturasi ini bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari hubungan perdagangan dan migrasi etnis Tionghoa ke Madura yang sudah berlangsung sejak lama. Mereka membawa keahlian dan kekayaan budaya yang kemudian berbaur dengan kearifan lokal, menghasilkan sebuah mahakarya yang menembus batas-batas etnis dan agama. Fenomena akulturasi budaya seperti yang terlihat di Sumenep ini kerap kami ulas dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam artikel kami mengenai peran komunitas Tionghoa di Pantai Utara Jawa dalam pembangunan masjid-masjid bersejarah lainnya.
Lebih dari Bangunan Fisik: Simbol Toleransi Lintas Generasi
Masjid Jamik Sumenep tidak hanya memukau dari sisi arsitektur, tetapi juga menyimpan narasi penting tentang bagaimana masyarakat etnis Tionghoa dan warga Madura mampu hidup berdampingan, saling menghormati, dan bahkan berkontribusi dalam pembangunan peradaban bersama. Kehadiran arsitek Tionghoa dalam proyek pembangunan masjid agung ini menandai tingkat kepercayaan dan integrasi sosial yang tinggi pada masanya.
Menurut Profesor Dr. Sinta Dewi, seorang sosiolog budaya dari Universitas Airlangga, “Masjid Jamik Sumenep adalah bukti nyata bahwa perbedaan etnis dan kepercayaan tidak menjadi penghalang untuk menciptakan karya monumental yang sarat makna. Ini adalah pelajaran berharga tentang koeksistensi harmonis yang relevan hingga hari ini.” Masjid ini menjadi pengingat bahwa dialog antarbudaya dapat berwujud nyata, menghasilkan warisan yang abadi dan diperkaya.
Warisan Harmoni di Era Modern
Di tengah dinamika sosial yang kerap diwarnai isu-isu keberagaman, Masjid Jamik Sumenep tetap berdiri tegak sebagai mercusuar toleransi. Keberadaannya secara aktif mempromosikan pemahaman bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman yang kokoh. Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah bagi umat Muslim di Sumenep, tetapi juga menjadi daya tarik wisata religi dan budaya yang menarik minat pengunjung dari berbagai latar belakang.
Generasi muda Sumenep kini memahami bahwa warisan arsitektur ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan sebuah “pesan hidup” dari leluhur tentang pentingnya persatuan dan penghargaan terhadap perbedaan. Masjid Jamik Sumenep terus menjadi simbol yang menginspirasi, mengingatkan kita bahwa kolaborasi lintas budaya dapat melahirkan keindahan dan kekuatan yang luar biasa. Warisan ini mengajak setiap pengunjung untuk merenungi sejarah panjang akulturasi dan toleransi yang telah mengukir identitas unik Sumenep di peta budaya nasional.