Khamenei Tugaskan Larijani Pimpin Strategi Kritis Hadapi Perang dan Pembunuhan
Dalam sebuah langkah yang menggarisbawahi kekhawatiran mendalam rezim Iran terhadap stabilitas dan kelangsungan hidupnya, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah secara khusus menugaskan Ali Larijani, seorang tokoh senior di lingkaran kekuasaan, untuk memimpin upaya memastikan Republik Islam Iran dapat bertahan dari potensi perang dan ancaman pembunuhan terhadap pemimpinnya. Penunjukan ini bukan sekadar rotasi jabatan biasa, melainkan cerminan dari penilaian serius Teheran terhadap ancaman eksternal dan internal yang berkembang, menempatkan pertahanan nasional dan kelangsungan rezim pada prioritas tertinggi. Langkah ini menandai pengakuan resmi atas situasi yang sangat berisiko, di mana kesiapan menghadapi skenario terburuk menjadi imperatif.
Ali Larijani, yang dikenal sebagai salah satu figur paling berpengalaman dan berintegritas dalam sistem politik Iran, pernah menjabat sebagai Ketua Parlemen dan sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Latar belakangnya yang kaya dalam urusan keamanan dan politik luar negeri menjadikannya pilihan logis untuk tugas sepenting ini. Kepercayaan Khamenei terhadap Larijani mengindikasikan bahwa pemimpin tertinggi mencari kombinasi antara pengalaman strategis, pemahaman mendalam tentang ancaman, dan kemampuan untuk mengkonsolidasikan kekuatan di tengah krisis. Misi ini bukan hanya tentang perencanaan militer, melainkan juga melibatkan strategi ketahanan ekonomi, sosial, dan politik untuk menghadapi tekanan berkelanjutan. Penunjukan ini juga dapat dilihat sebagai upaya untuk memobilisasi semua sumber daya negara di bawah satu payung kepemimpinan yang kuat untuk menghadapi tantangan eksistensial.
Konsekuensi Ancaman Ganda: Perang dan Pembunuhan
Ancaman perang yang disebut-sebut oleh rezim Iran bukanlah hal baru, namun penunjukan Larijani menunjukkan bahwa ancaman tersebut kini diperlakukan dengan tingkat urgensi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Iran terus menghadapi ketegangan regional yang memanas dengan Israel, Arab Saudi, dan kehadiran militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Program nuklir Iran yang kontroversial, dukungannya terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan, dan retorika anti-Barat sering kali memicu respons keras dari lawan-lawannya. Dalam konteks ini, “perang” bisa diinterpretasikan secara luas, mulai dari konflik militer terbatas hingga serangan siber skala besar, atau bahkan destabilisasi ekonomi yang bertujuan meruntuhkan rezim dari dalam.
Sementara itu, ancaman pembunuhan menambahkan dimensi yang lebih pribadi dan mengkhawatirkan. Sejarah Iran modern diwarnai oleh insiden-insiden pembunuhan politik, termasuk para ilmuwan nuklir dan, yang paling signifikan, Komandan Pasukan Quds Qassem Soleimani pada awal 2020. Kekhawatiran akan serangan serupa terhadap tokoh-tokoh kunci, bahkan Khamenei sendiri, adalah nyata. Hal ini memerlukan strategi pertahanan berlapis yang mencakup penguatan intelijen, pengamanan personalia penting, dan pengembangan rencana suksesi yang solid untuk menjaga kelangsungan kepemimpinan dan stabilitas negara. Dewan Hubungan Luar Negeri AS sering membahas kompleksitas geopolitik di Timur Tengah yang turut membentuk persepsi ancaman Iran ini.
- Kesiapan Militer: Penguatan kapasitas militer konvensional dan asimetris, termasuk rudal balistik dan kemampuan perang siber.
- Ketahanan Ekonomi: Strategi ekonomi resistensi untuk mengatasi sanksi, diversifikasi sumber pendapatan, dan pengamanan rantai pasok.
- Keamanan Internal: Peningkatan intelijen dan keamanan untuk mencegah sabotase, infiltrasi, serta melindungi pejabat penting.
- Diplomasi Proaktif: Upaya untuk meredakan ketegangan dengan negara-negara tertentu dan memperkuat aliansi regional.
Implikasi Penunjukan Larijani bagi Stabilitas Regional
Penunjukan Larijani ini mengirimkan pesan yang jelas, baik ke dalam maupun ke luar negeri. Secara internal, hal ini menunjukkan bahwa rezim tidak main-main dalam menghadapi ancaman eksistensial, dan siap untuk mengkonsolidasikan kekuatan di bawah kepemimpinan yang terpercaya. Hal ini dapat meningkatkan moral di kalangan pendukung garis keras dan menekan perbedaan pendapat. Secara eksternal, penunjukan ini dapat ditafsirkan sebagai sinyal bahwa Iran sedang mempersiapkan diri untuk skenario terburuk, yang berpotensi meningkatkan ketegangan di kawasan. Negara-negara tetangga dan kekuatan Barat mungkin melihat langkah ini sebagai indikasi peningkatan agresivitas atau, setidaknya, kesiapan Iran untuk mengambil sikap yang lebih defensif dan tidak berkompromi.
Strategi yang akan dikembangkan di bawah kepemimpinan Larijani kemungkinan besar akan mencakup elemen-elemen berikut:
- Penguatan Pertahanan Asimetris: Mengandalkan kemampuan non-konvensional, termasuk jaringan proksi dan unit-unit khusus, untuk menghambat musuh.
- Inovasi Teknologi: Investasi lebih lanjut dalam teknologi militer canggih, seperti drone dan sistem anti-akses/area-denial.
- Pemeliharaan Kohesi Internal: Mengurangi potensi perpecahan internal yang dapat dieksploitasi oleh musuh.
- Fleksibilitas Diplomatik: Meski bersiap untuk konflik, Iran juga akan menjaga jalur diplomatik terbuka untuk meredakan krisis atau mencari keuntungan strategis.
Keputusan Khamenei untuk menempatkan Ali Larijani di posisi kunci ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang dirasakan oleh rezim Iran. Ini adalah panggilan untuk bertindak, menggarisbawahi tekad Teheran untuk menjaga kelangsungan Republik Islam, bahkan di tengah badai geopolitik yang bergejolak dan ancaman eksistensial yang terus membayangi. Dunia akan mengamati dengan cermat bagaimana Larijani akan mengemban amanah berat ini, dan bagaimana strategi ketahanan yang disusunnya akan memengaruhi dinamika kekuasaan di salah satu kawasan paling volatile di dunia.