Volatilitas Dominasi Perdagangan Pagi, IHSG Berbalik Melemah ke 8.255 Poin

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan pertama pada Kamis, 26 Februari 2026, dengan tekanan jual yang signifikan. Indeks mencatat penurunan sebesar 67,05 poin atau 0,81 persen, menutup perdagangan di level 8.255. Penutupan ini menandai kembalinya sentimen negatif setelah pasar sempat menunjukkan harapan pada awal perdagangan. Volatilitas tinggi mewarnai pergerakan indeks sepanjang pagi, secara jelas menggambarkan keraguan investor di tengah berbagai sentimen pasar.

Pasar saham Indonesia membuka perdagangan dengan optimisme terbatas, melihat indeks menguat dan mencapai 8.351,36. Bahkan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi intraday di 8.358,96. Namun, euforia awal ini tidak bertahan lama. Tekanan jual meningkat secara bertahap, mulai mendominasi pasar, menyeret indeks jauh dari level tertinggi dan menembus zona merah. Indeks mencapai titik terendah sesi di 8.236 sebelum sedikit terkoreksi naik menuju penutupan sesi I.

Pergerakan Pasar dan Sektor Penekan Utama

Berbagai faktor, baik internal maupun eksternal, memicu aksi profit taking dan kekhawatiran investor, yang menghasilkan pelemahan IHSG di sesi pertama ini. Secara sektoral, beberapa sektor utama menunjukkan diri sebagai penekan terbesar. Sektor keuangan, misalnya, merasakan tekanan jual yang cukup dalam, dan sektor-sektor berbasis komoditas serta barang baku turut merasakan dampaknya karena sensitivitasnya terhadap perubahan harga global. Kinerja emiten-emiten berkapitalisasi besar (big caps) di sektor-sektor ini turut berkontribusi terhadap pelemahan IHSG.

  • IHSG dibuka menguat pada level: 8.351,36
  • Level tertinggi intraday: 8.358,96
  • Level terendah intraday: 8.236
  • Penutupan sesi I: 8.255
  • Penurunan poin: 67,05
  • Persentase penurunan: 0,81%

Analisis awal menunjukkan minimnya katalis positif domestik, dikombinasikan dengan sentimen global yang cenderung berhati-hati. Kondisi ini membuat investor memilih mengamankan keuntungan yang telah didapat sebelumnya. Volume transaksi di sesi pertama juga mencerminkan sikap wait-and-see ini, dengan nilai transaksi yang belum terlalu agresif dibandingkan hari-hari perdagangan yang didominasi oleh penguatan signifikan.

Faktor-faktor Pemicu Pelemahan dan Prospek Sesi Kedua

Pelemahan ini bukan tanpa alasan. Beberapa analis pasar menyoroti kekhawatiran terkait potensi kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral global yang masih membayangi, serta data inflasi di beberapa negara maju yang menunjukkan angka di atas ekspektasi. Dari dalam negeri, rilis data ekonomi yang belum sepenuhnya mendukung ekspektasi pasar juga berkontribusi pada sentimen negatif. Para pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan kebijakan pemerintah yang berpotensi memengaruhi iklim investasi jangka pendek.

Menjelang sesi perdagangan kedua, ketidakpastian masih menyelimuti prospek IHSG. Analis memperkirakan level support terdekat berada di sekitar 8.200, sementara resistance kuat berada di kisaran 8.300-8.320. Investor akan mencermati pergerakan bursa regional lainnya serta kemungkinan adanya intervensi pasar atau berita ekonomi penting yang dapat mengubah arah sentimen. Volume dan nilai transaksi di sesi kedua akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah kekuatan beli cukup mendorong indeks kembali ke zona hijau atau tekanan jual terus berlanjut.

Sebelumnya, IHSG sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan, namun tekanan di pertengahan minggu ini membuktikan pasar masih sangat sensitif terhadap dinamika global dan domestik. Untuk informasi lebih lanjut mengenai tren pasar sebelumnya, Anda bisa melihat analisis pasar kami pekan lalu.

Strategi Investor di Tengah Volatilitas Pasar

Bagi para investor, kondisi pasar yang volatil seperti saat ini menuntut kehati-hatian. Para ahli menyarankan untuk fokus pada emiten dengan fundamental kuat dan memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang jelas, meskipun dalam jangka pendek harganya mungkin terpengaruh fluktuasi pasar. Diversifikasi portofolio tetap menjadi strategi kunci untuk memitigasi risiko di tengah ketidakpastian.

Selain itu, penting juga bagi investor untuk terus memantau perkembangan makroekonomi, baik di tingkat global maupun domestik. Keputusan bank sentral, rilis data inflasi, pertumbuhan PDB, serta kebijakan fiskal pemerintah akan sangat memengaruhi arah pasar ke depan. Memahami dinamika ini membantu investor membuat keputusan yang lebih terinformasikan dan adaptif terhadap perubahan kondisi pasar. Edukasi dan riset yang mendalam menjadi landasan utama dalam menghadapi tantangan di pasar saham.