Gus Salam Ingatkan Pentingnya Independensi Muktamar NU ke-35: Menjaga Khittah Organisasi
KH Abdussalam Shohib, yang akrab disapa Gus Salam, menyerukan pentingnya menjaga independensi pelaksanaan Muktamar NU ke-35. Cucu salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Bisri Syansuri, ini secara tegas mengingatkan agar forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut terbebas dari segala bentuk intervensi eksternal, baik politik maupun kepentingan lainnya. Seruan ini muncul sebagai penekanan terhadap marwah dan jati diri NU, yang selalu berkomitmen pada prinsip-prinsip khittah-nya.
Pernyataan Gus Salam bukan sekadar peringatan biasa, melainkan sebuah refleksi atas perjalanan panjang NU dalam menjaga kemandiriannya. Sebagai trah pendiri, suaranya memiliki bobot moral dan historis yang kuat, mengingatkan seluruh elemen NU akan warisan perjuangan para pendahulu dalam membangun organisasi yang kokoh, berintegritas, dan murni dalam pengabdian kepada umat serta bangsa.
Muktamar: Jantung Demokrasi NU dan Amanah Pendiri
Muktamar merupakan forum musyawarah tertinggi dalam struktur Nahdlatul Ulama. Di sinilah arah perjuangan organisasi diputuskan, program-program strategis disusun, dan yang paling krusial, kepemimpinan tertinggi PBNU – Rais Aam dan Ketua Umum – dipilih. Proses pemilihan ini sangat menentukan masa depan NU selama lima tahun ke depan, baik dalam dimensi keagamaan, sosial, maupun kebangsaan. Oleh karena itu, integritas dan independensi Muktamar adalah fondasi utama bagi legitimasi hasil keputusan dan kepemimpinan yang terpilih.
- Pemilihan Rais Aam: Proses pemilihan pimpinan tertinggi Dewan Syuriyah PBNU yang mengemban amanat keulamaan dan menjaga kemurnian ajaran NU.
- Pemilihan Ketua Umum PBNU: Memilih pemimpin eksekutif yang bertanggung jawab atas jalannya roda organisasi secara keseluruhan.
- Perumusan Program Kerja: Menetapkan agenda dan arah strategis NU dalam menghadapi tantangan zaman.
- Penegasan Khittah NU: Forum untuk kembali menegaskan dan memperkuat komitmen NU terhadap prinsip-prinsip dasar yang telah ditetapkan sejak awal pendiriannya.
Intervensi dari pihak luar, apalagi yang memiliki agenda politik jangka pendek, berpotensi merusak proses demokrasi internal NU. Ini bisa menggeser fokus organisasi dari tujuan utamanya untuk melayani umat dan menjaga keutuhan bangsa, menjadi alat bagi kepentingan sesaat. Gus Salam memahami betul risiko ini, sehingga seruannya menjadi sangat relevan dalam konteks persiapan menuju Muktamar ke-35.
Tantangan Menjaga Independensi di Era Kontemporer
Menjaga independensi NU di tengah hiruk-pikuk politik nasional bukanlah tugas yang mudah. Sejak kelahirannya, NU selalu menjadi entitas yang memiliki pengaruh signifikan dalam peta sosial dan politik Indonesia. Namun, para pendiri telah meletakkan landasan bahwa NU harus tetap menjadi organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang mandiri, jauh dari tarikan kepentingan politik praktis. Konsep khittah NU pada tahun 1984 adalah bukti komitmen kuat untuk kembali pada jati diri ini, menjauhi politik partai secara kelembagaan.
Dalam sejarahnya, NU beberapa kali menghadapi cobaan intervensi. Ada masa-masa ketika kekuatan politik mencoba memanfaatkan pengaruh NU untuk agenda mereka sendiri. Namun, kekuatan moral para ulama dan komitmen akar rumput selalu menjadi benteng pertahanan utama. Saat ini, tantangan bisa datang dalam berbagai bentuk:
- Tekanan Politik: Upaya dari partai politik atau figur tertentu untuk mengarahkan pilihan kandidat atau kebijakan NU.
- Pengaruh Ekonomi: Donasi atau dukungan finansial yang datang dengan agenda tersembunyi, mempengaruhi independensi pengambilan keputusan.
- Fragmentasi Internal: Perpecahan antar kelompok dalam NU yang bisa dieksploitasi oleh pihak luar.
- Serangan Informasi: Kampanye disinformasi yang mencoba mendiskreditkan calon independen atau memecah belah persatuan internal.
Penting bagi seluruh warga Nahdliyin, mulai dari pengurus di tingkat pusat hingga ranting, untuk berpegang teguh pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi serta nilai-nilai luhur yang telah diwariskan. Hanya dengan demikian, hasil Muktamar akan benar-benar merepresentasikan kehendak jamaah dan membawa kemaslahatan bagi NU serta Indonesia.
Suara Gus Salam: Menggema Warisan Para Pendiri
Sebagai cucu seorang ulama besar sekaliber KH Bisri Syansuri, salah satu pendiri NU yang terkenal dengan keteguhan dan independensinya, Gus Salam memiliki posisi unik untuk menyuarakan peringatan ini. KH Bisri Syansuri adalah sosok yang sangat dihormati, tidak hanya karena keilmuannya yang mendalam tetapi juga karena prinsipnya yang tidak mudah goyah oleh kepentingan sesaat. Melalui Gus Salam, warisan nilai-nilai tersebut terus hidup dan relevan bagi generasi NU masa kini.
Peringatan Gus Salam ini adalah ajakan kolektif untuk introspeksi bagi seluruh elemen NU. Ini adalah momen untuk kembali merenungkan sejauh mana komitmen terhadap khittah NU telah dipegang teguh. Muktamar NU bukan hanya tentang pemilihan ketua, tetapi juga tentang menjaga amanah keagamaan dan kebangsaan yang diemban oleh organisasi ini sejak awal pendiriannya. Keberhasilan Muktamar ke-35 dalam menjaga independensinya akan menjadi tolok ukur kematangan dan kemandirian NU di mata umat dan bangsa.
Sebagai organisasi yang telah berdiri hampir satu abad, NU memiliki rekam jejak panjang dalam menghadapi berbagai tantangan. Dengan semangat kebersamaan dan komitmen pada prinsip-prinsip pendiri, diharapkan Muktamar ke-35 akan berjalan lancar, demokratis, dan menghasilkan keputusan serta kepemimpinan yang murni demi kemajuan NU dan kejayaan bangsa. Informasi lebih lanjut mengenai Nahdlatul Ulama dapat diakses melalui situs resmi NU.