JAKARTA – Sebanyak 709 pelajar dari 150 sekolah di wilayah Jakarta Barat memadati GOR Cendrawasih, Jalan Cendrawasih IX, Kalideres, Cengkareng, pada Selasa (19/5). Mereka berpartisipasi aktif dalam Pekan Olahraga Tradisional (Potrad) tingkat Kota Jakarta Barat, sebuah acara yang bertujuan membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap warisan budaya bangsa melalui aktivitas fisik yang menyenangkan dan edukatif.
Kepala Seksi Olahraga Suku Dinas Pemuda dan Olahraga (Pora) Jakarta Barat, Tomi Ari Sudewo, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan platform penting untuk edukasi dan pelestarian. “Potrad menjadi wadah vital untuk memperkenalkan kembali berbagai jenis olahraga tradisional kepada para pelajar. Bersamaan dengan itu, kami menanamkan nilai-nilai sportivitas, kebersamaan, dan kecintaan terhadap budaya luhur bangsa,” ujar Tomi, menekankan pentingnya peran serta aktif siswa.
Partisipasi yang masif dari ratusan pelajar ini secara jelas menunjukkan antusiasme tinggi terhadap kegiatan di luar kurikulum sekolah. Para peserta memainkan kembali berbagai cabang olahraga tradisional yang dulunya akrab di masyarakat dengan semangat baru, menciptakan suasana meriah dan penuh keakraban di seluruh area GOR.
Revitalisasi Olahraga Tradisional di Tengah Generasi Digital
Di tengah arus deras era digital yang didominasi gawai dan permainan daring, Pekan Olahraga Tradisional menawarkan alternatif kegiatan fisik yang interaktif dan sarat makna. Peserta diajak merasakan langsung serunya bermain tanpa teknologi, mengandalkan kekuatan fisik, strategi, serta kerja sama tim. Inisiatif dari Suku Dinas Pemuda dan Olahraga Jakarta Barat ini menjadi angin segar dalam upaya menjaga keseimbangan gaya hidup anak muda ibu kota.
Tomi Ari Sudewo menambahkan, pemilihan olahraga tradisional juga memiliki dampak positif yang signifikan pada pengembangan motorik dan sosial anak. “Olahraga seperti egrang melatih keseimbangan, gobak sodor mengasah strategi dan kecepatan, sedangkan tarik tambang menuntut kekompakan dan kekuatan. Ini adalah keterampilan penting yang seringkali terabaikan dalam rutinitas modern,” paparnya. Pihaknya berharap, melalui Potrad, pelajar dapat lebih menghargai kekayaan budaya dan menjadikannya bagian tak terpisahkan dari gaya hidup sehat mereka.
Beberapa jenis olahraga tradisional yang dipertandingkan dalam Potrad Jakarta Barat kali ini meliputi:
- Egrang: Permainan keseimbangan yang menantang menggunakan bambu panjang.
- Bakiak: Permainan kekompakan dan sinkronisasi menggunakan sandal kayu berukuran besar untuk beberapa orang.
- Gobak Sodor: Permainan strategi dan kecepatan tim yang populer di kalangan anak-anak.
- Tarik Tambang: Menguji kekuatan fisik dan kerja sama tim secara frontal.
- Dagongan: Mirip tarik tambang, namun menggunakan bambu panjang sebagai alat dorong yang menantang.
Dukungan Pemerintah Daerah untuk Pelestarian Budaya
Penyelenggaraan Potrad ini merupakan wujud nyata komitmen pemerintah daerah, khususnya melalui Suku Dinas Pemuda dan Olahraga, dalam mendukung pelestarian budaya dan pengembangan potensi generasi muda. Kegiatan ini tidak hanya berhenti pada tingkat kota, namun penyelenggara berharap menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah untuk terus mengintegrasikan olahraga tradisional dalam kegiatan ekstrakurikuler mereka, menjadikannya agenda rutin yang ditunggu-tunggu.
Langkah ini juga sejalan dengan berbagai program nasional untuk melestarikan warisan budaya tak benda Indonesia. Seperti diketahui, Kementerian Pemuda dan Olahraga secara aktif mendukung berbagai inisiatif serupa di seluruh Indonesia, menegaskan bahwa olahraga tradisional adalah aset berharga yang harus terus dijaga, diperkenalkan, dan dimodifikasi agar relevan bagi generasi mendatang. (Kementerian Pemuda dan Olahraga)
Acara Potrad Jakarta Barat ini tidak hanya memperlombakan, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga yang mendalam di kalangan pelajar terhadap identitas budaya mereka. Diharapkan, kegiatan serupa akan terus bergulir dan menjangkau lebih banyak peserta di masa mendatang, memastikan bahwa semangat olahraga tradisional akan terus menyala terang di jantung ibu kota, menular ke seluruh pelosok negeri.
Setelah suksesnya gelaran di Jakarta Barat, perhatian kini mengarah pada bagaimana momentum positif ini dapat dipertahankan dan diperluas. Diskusi mengenai potensi pengembangan Potrad menjadi ajang yang lebih besar, mungkin hingga tingkat provinsi, tentu akan menjadi topik menarik bagi Suku Dinas Pora dan pihak terkait lainnya untuk menjangkau lebih banyak pelajar di seluruh wilayah DKI Jakarta, memperkuat fondasi olahraga tradisional di ibu kota.