Ketegangan Meningkat di Suriah Bentrokan Sengit ISIS dan Milisi Pro-Assad Kembali Pecah

Situasi keamanan di Suriah kembali memanas setelah terjadi serangkaian bentrokan intens. Pasukan keamanan Suriah menghadapi perlawanan sengit dari kelompok teroris ISIS yang terus berupaya memperluas pengaruhnya. Ironisnya, di saat yang sama, pasukan pemerintah juga bersitegang dengan milisi pro-Bashar Al Assad, Saraya Al Jawad, dalam insiden terpisah. Peristiwa ini menyoroti kompleksitas dan kerapuhan stabilitas di negara yang telah bergejolak selama lebih dari satu dekade.

Konflik Suriah Latar Belakang dan Komplikasi

Konflik Suriah, yang bermula pada tahun 2011 sebagai bagian dari gelombang Musim Semi Arab, telah berkembang menjadi salah satu krisis kemanusiaan dan geopolitik paling rumit di dunia. Bukan sekadar perang sipil, konflik ini melibatkan berbagai aktor domestik dan internasional, termasuk kekuatan regional dan global, kelompok pemberontak, milisi etnis, dan organisasi teroris. Setiap faksi memiliki agenda serta aliansi yang terus berubah, menjadikannya medan perang yang tak kunjung usai dan sulit diprediksi.

Meskipun pemerintah Suriah, dengan dukungan sekutu-sekutunya, berhasil merebut kembali sebagian besar wilayah yang sebelumnya dikuasai kelompok oposisi dan teroris, kantung-kantung perlawanan dan ekstremisme tetap eksis. Insiden bentrokan terbaru ini membuktikan bahwa narasi "akhir perang" masih jauh dari kenyataan, dan ancaman terhadap keamanan masih sangat nyata di berbagai wilayah.

Ancaman ISIS yang Terus Menghantui

Kelompok teroris ISIS, meskipun kehilangan kendali atas "kekhalifahan" teritorial mereka beberapa tahun lalu, menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa. Mereka telah beralih ke taktik gerilya, bersembunyi di gurun pasir dan wilayah terpencil, serta melancarkan serangan mendadak terhadap pasukan keamanan dan warga sipil. Kebangkitan aktivitas ISIS merupakan pengingat bahwa ideologi ekstremisme masih mengakar kuat dan terus dieksploitasi untuk memicu kekerasan. Ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah Suriah dan komunitas internasional yang sebelumnya mengklaim telah mengalahkan kelompok tersebut. (Baca juga: Linimasa Konflik Suriah dan Peran Kelompok Ekstremis)

  • Taktik Gerilya: ISIS memanfaatkan medan yang sulit dan luas untuk melancarkan serangan hit-and-run, menghindari konfrontasi langsung.
  • Eksploitasi Celah Keamanan: Kelompok ini aktif di wilayah-wilayah yang pengawasannya longgar atau di daerah perbatasan yang rentan.
  • Pendanaan dan Rekrutmen: Meskipun terdesak, ISIS masih menemukan cara untuk mendanai operasinya dan merekrut anggota baru dari komunitas yang terpinggirkan.

Peran Milisi Pro-Pemerintah Termasuk Saraya Al Jawad

Selain ancaman ISIS, pemerintah Suriah juga harus menghadapi dinamika internal yang kompleks, termasuk keberadaan berbagai milisi pro-pemerintah. Saraya Al Jawad adalah salah satu dari banyak kelompok paramiliter yang muncul selama konflik untuk mendukung Tentara Arab Suriah. Kelompok-kelompok ini sering kali menerima dukungan dari negara-negara sekutu, seperti Iran, dan memainkan peran krusial dalam pertempuran. Namun, keberadaan dan operasi mereka terkadang menimbulkan friksi, bahkan dengan pasukan pemerintah sendiri, atau memicu ketidakpercayaan di antara populasi lokal.

Insiden bentrokan antara pasukan keamanan dan Saraya Al Jawad menunjukkan adanya ketegangan internal dan potensi konflik yang tidak hanya berasal dari musuh eksternal, melainkan juga dari dalam kubu pro-pemerintah. Hal ini menambah lapisan kerumitan dalam upaya menstabilkan negara dan menegakkan hukum di seluruh wilayah.

Implikasi Bentrokan Baru Bagi Stabilitas Regional

Bentrokan terbaru ini membawa implikasi serius bagi stabilitas Suriah dan kawasan Timur Tengah secara keseluruhan. Eskalasi kekerasan dapat memicu gelombang pengungsian baru, memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah parah, dan menggagalkan upaya rekonstruksi pasca-konflik. Selain itu, kebangkitan ISIS dapat menginspirasi kelompok ekstremis lain di wilayah tersebut, meningkatkan risiko terorisme lintas batas.

Bagi komunitas internasional, situasi ini menjadi pengingat pahit bahwa penyelesaian politik yang komprehensif adalah satu-satunya jalan menuju perdamaian abadi di Suriah. Tanpa solusi yang mengatasi akar penyebab konflik, termasuk ketidakpuasan politik dan ekonomi, serta fragmentasi keamanan, Suriah akan terus terperangkap dalam siklus kekerasan yang tak berkesudahan.

Ketegangan yang kembali meningkat di Suriah dengan bentrokan antara pasukan keamanan melawan ISIS dan milisi pro-Assad, Saraya Al Jawad, menunjukkan bahwa perdamaian di wilayah tersebut masih merupakan tujuan yang jauh. Upaya stabilisasi tidak hanya memerlukan penumpasan kelompok teroris, tetapi juga pengelolaan dinamika internal yang kompleks dan pencarian konsensus politik yang inklusif.