DPR RI Desak Indonesia Perankan Diplomasi Konstruktif di Tengah Pilihan Mediator Iran-AS

JAKARTA – Keputusan Iran menunjuk Pakistan dan Turki sebagai mediator dalam ketegangan diplomatiknya dengan Amerika Serikat (AS) sontak memicu perhatian global, termasuk dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Legislator Indonesia menyuarakan harapan agar Indonesia tidak absen dari dinamika geopolitik ini, melainkan justru mengambil peran aktif dan konstruktif dalam mendorong perdamaian internasional melalui jalur diplomatik.

Langkah Iran memilih dua negara Muslim tersebut sebagai fasilitator menunjukkan adanya upaya Teheran untuk meredakan tensi yang telah berlangsung lama dan kerap memanas. Konflik Iran dan AS memiliki akar sejarah yang panjang, berawal dari Revolusi Islam Iran 1979, krisis penyanderaan sandera di Kedutaan AS, hingga sanksi ekonomi berturut-turut. Ketegangan semakin meruncing pasca-AS menarik diri dari kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2018, dan kebijakan ‘tekanan maksimum’ yang menyebabkan krisis di Selat Hormuz dan serangkaian insiden keamanan lainnya di Timur Tengah.

Mengapa Pakistan dan Turki Menjadi Pilihan Iran?

Pemilihan Pakistan dan Turki sebagai mediator bukanlah tanpa alasan strategis. Kedua negara tersebut memiliki posisi unik dalam lanskap geopolitik:

  • Pakistan: Sebagai negara tetangga Iran dan anggota aktif Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Pakistan memiliki hubungan historis yang kompleks namun tetap terjaga dengan Iran. Pakistan juga mempertahankan hubungan yang baik dengan Tiongkok dan beberapa negara Teluk yang memiliki pandangan berbeda terhadap Iran, menjadikannya jembatan potensial. Pakistan juga sebelumnya pernah mencoba memainkan peran mediasi dalam konflik regional.
  • Turki: Meskipun merupakan anggota NATO, Turki dikenal dengan kebijakan luar negerinya yang semakin independen dan berciri multi-vektor. Turki berbagi sejarah dan budaya yang kaya dengan Persia (Iran) dan telah berulang kali mencoba memposisikan diri sebagai mediator regional, termasuk dalam konflik Suriah dan ketegangan di Mediterania Timur. Turki juga memiliki kapasitas diplomatik dan ekonomi yang signifikan, memungkinkannya berinteraksi dengan berbagai pihak secara efektif.

Kedua negara ini, dengan beragam afiliasi dan kepentingannya, dianggap mampu mendekati kedua belah pihak dengan tingkat objektivitas dan kepercayaan yang diperlukan untuk memfasilitasi dialog yang produktif.

DPR RI Desak Peran Aktif Indonesia

Merespons dinamika ini, sejumlah anggota DPR RI mendesak pemerintah Indonesia untuk tidak hanya mengamati, tetapi turut serta secara proaktif. Desakan ini selaras dengan prinsip politik luar negeri ‘bebas aktif’ Indonesia yang mengedepankan perdamaian dunia dan penolakan terhadap intervensi asing.

Indonesia, sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia dan salah satu kekuatan ekonomi G20, memiliki modal moral dan kapasitas diplomatik yang tidak bisa diremehkan. Sejarah mencatat peran aktif Indonesia dalam Konferensi Asia-Afrika, Gerakan Non-Blok, dan berbagai misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Peran ‘diplomasi konstruktif’ yang diharapkan oleh DPR RI berarti Indonesia dapat:

  • Menawarkan platform dialog netral.
  • Mendorong de-eskalasi ketegangan melalui komunikasi bilateral atau multilateral.
  • Mengadvokasi penyelesaian damai berdasarkan hukum internasional.
  • Memanfaatkan hubungan baik dengan berbagai negara, termasuk di Timur Tengah dan Barat, untuk membangun jembatan pemahaman.

Pendekatan semacam ini pernah sukses Indonesia jalankan dalam Dewan Keamanan PBB, di mana Indonesia secara konsisten menyuarakan pentingnya dialog dan solusi damai untuk berbagai konflik global.

Tantangan dan Peluang Diplomasi Indonesia

Tentu saja, mediasi konflik sebesar Iran-AS penuh dengan tantangan. Tingkat ketidakpercayaan yang tinggi, kepentingan strategis yang berbeda, dan tekanan domestik dari kedua belah pihak membuat setiap upaya mediasi menjadi sangat kompleks. Namun, ini juga merupakan peluang bagi Indonesia untuk menegaskan kembali posisinya sebagai aktor global yang bertanggung jawab.

Dengan mendekati Pakistan, Turki, Iran, dan AS, Indonesia dapat menawarkan perspektif alternatif dan membantu mencari titik temu yang mungkin terlewatkan. Kemampuan Indonesia untuk berbicara dengan berbagai pihak tanpa memihak dapat menjadi aset berharga dalam upaya meredakan ketegangan dan mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di salah satu wilayah paling krusial di dunia. Keterlibatan aktif Indonesia dalam isu ini bukan hanya tentang mempromosikan perdamaian, tetapi juga tentang melindungi stabilitas global yang memiliki dampak langsung pada kepentingan ekonomi dan keamanan nasional Indonesia sendiri.