GAYA POLITIK – Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan secara pribadi menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mengecualikan sosok kontroversial Itamar Ben Gvir dari kabinet pemerintahan Israel berikutnya. Desakan ini menandai intervensi signifikan dari mantan pemimpin AS dalam pembentukan pemerintahan Israel, menyoroti kekhawatiran serius yang mungkin timbul akibat partisipasi Ben Gvir di pucuk kekuasaan.
Tekanan ini muncul di tengah negosiasi koalisi yang rumit yang dihadapi Netanyahu pasca-pemilu, di mana ia sangat membutuhkan dukungan partai-partai sayap kanan, termasuk partai Otzma Yehudit yang dipimpin Ben Gvir, untuk membentuk mayoritas stabil. Namun, keterlibatan Ben Gvir, dengan rekam jejak dan pandangannya yang ekstremis, telah memicu kekhawatiran besar tidak hanya di kalangan domestik tetapi juga di panggung internasional, termasuk dari sekutu dekat Israel seperti Amerika Serikat.
Latar Belakang Tekanan Trump
Meskipun dikenal sebagai sekutu kuat Israel dan memiliki hubungan pribadi yang erat dengan Netanyahu selama masa kepresidenannya, intervensi Trump kali ini menggarisbawahi potensi bahaya yang dilihat Washington terhadap stabilitas regional dan nilai-nilai demokrasi yang diusung oleh kedua negara. Sumber-sumber yang dekat dengan isu ini melaporkan bahwa Trump menyampaikan kekhawatirannya langsung kepada Netanyahu, menekankan bahwa kehadiran Ben Gvir dalam posisi kunci di kabinet dapat merusak citra Israel di mata dunia dan bahkan memperumit hubungan bilateral dengan AS.
Pemerintahan AS sebelumnya, di bawah Joe Biden, juga secara tersirat telah menyuarakan keprihatinan serupa mengenai elemen-elemen ekstremis dalam politik Israel. Namun, desakan langsung dari seorang mantan presiden dengan pengaruh yang masih kuat dalam politik Republik menunjukkan tingkat alarm yang serius terhadap arah politik Israel. Tekanan ini tidak hanya sebatas opini, melainkan refleksi dari penilaian strategis bahwa figur seperti Ben Gvir dapat menjadi penghalang bagi proses perdamaian di Timur Tengah dan memicu ketegangan yang tidak perlu dengan Palestina serta negara-negara Arab di kawasan tersebut.
Siapa Itamar Ben Gvir dan Mengapa Kontroversial?
Itamar Ben Gvir adalah seorang politikus sayap kanan jauh Israel, pemimpin partai Otzma Yehudit (Kekuatan Yahudi). Ia dikenal karena pandangannya yang sangat nasionalis dan sering kali dianggap rasis terhadap warga Palestina dan Arab Israel. Ben Gvir memiliki rekam jejak panjang dalam aktivisme politik ekstremis, termasuk afiliasi sebelumnya dengan kelompok-kelompok yang dilarang di Israel, seperti Kach, yang didirikan oleh Rabbi Meir Kahane.
- Retorika Anti-Arab: Ben Gvir secara terbuka menyerukan deportasi warga Arab yang dianggap “tidak setia” dan mendukung kebijakan yang sangat keras terhadap Palestina.
- Dukungan Terhadap Pemukim Radikal: Ia adalah seorang pemukim di Hebron dan sering terlibat dalam insiden yang memicu ketegangan antara pemukim Yahudi dan warga Palestina.
- Kontroversi Hukum: Ben Gvir memiliki sejarah puluhan dakwaan dan putusan pengadilan terkait hasutan dan dukungan terhadap organisasi teroris.
- Jabatan yang Diincar: Ben Gvir mengincar portofolio keamanan publik, yang akan memberinya kendali atas kepolisian Israel, sebuah prospek yang mengkhawatirkan banyak pihak.
Pandangan dan tindakannya ini telah menjadikannya figur paria di banyak kalangan internasional. Keberadaannya dalam kabinet Israel dipandang dapat merusak kredibilitas Israel sebagai negara demokrasi dan sekutu Barat yang moderat.
Dilema Netanyahu dan Implikasi Hubungan AS-Israel
Tekanan dari Trump menempatkan Netanyahu dalam posisi yang sangat sulit. Di satu sisi, ia membutuhkan kursi dari Otzma Yehudit untuk mencapai mayoritas parlemen dan membentuk pemerintahan. Tanpa Ben Gvir dan sekutunya, Netanyahu mungkin kesulitan membentuk koalisi yang stabil, sebuah masalah yang sering menghantui politik Israel selama beberapa tahun terakhir, seperti yang terlihat pada artikel kami sebelumnya tentang kebuntuan politik di negara tersebut.
Di sisi lain, mengabaikan desakan AS dapat memicu ketegangan serius dalam hubungan bilateral yang krusial. Amerika Serikat adalah penyumbang bantuan militer terbesar bagi Israel dan mitra diplomatik terpenting. Keterlibatan Ben Gvir di posisi strategis berpotensi memperdalam jurang perbedaan pandangan antara Washington dan Yerusalem, khususnya terkait isu-isu sensitif seperti konflik Israel-Palestina dan masa depan solusi dua negara yang secara resmi masih didukung AS.
Pemerintahan Biden telah menegaskan kembali komitmennya terhadap solusi dua negara, sebuah posisi yang secara terbuka ditentang oleh Ben Gvir dan partainya. Jika Ben Gvir memegang portofolio keamanan dan menerapkan kebijakan yang lebih agresif di Tepi Barat atau terhadap warga Palestina, hal itu dapat memicu krisis diplomatik dan bahkan mengancam dukungan AS di forum-forum internasional. Keputusan Netanyahu mengenai Ben Gvir akan menjadi ujian berat bagi kepemimpinannya dan akan memiliki gema yang jauh melampaui batas-batas Israel.